Bab 9: Keberanian di Bawah Tekanan

Dia harus menghilang, sekarang juga.

Tubuhnya terasa ringan, namun pikirannya berputar cepat, mencari jalan keluar dari labirin gang-gang sempit itu.

Naira terus berlari, napasnya tersengal, melewati tumpukan sampah, gerobak kosong, dan tatapan penasaran warga sekitar.

Ia menoleh ke belakang, sedan hitam itu sudah tidak terlihat. Mungkin terjebak di gang lain, atau menyerah.

Tapi ia tahu, ini bukan akhir. Ini baru permulaan dari permainan kucing-dan-tikus yang jauh lebih berbahaya.

Ia melarikan diri ke sebuah masjid kecil yang sepi, menyamar sebagai jamaah yang kebetulan lewat.

Di sana, di balik kerudung yang ia pinjam dari seorang ibu-ibu baik hati, ia menyelinap ke toilet, mengunci diri.

Jantungnya masih berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya. Keringat dingin membasahi punggungnya.

Ia menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. Wajahnya pucat, matanya memancarkan ketakutan, namun ada juga kilatan tekad yang membara.

"Mereka tahu," bisiknya pada diri sendiri, suaranya serak. "Mereka tahu aku punya sesuatu. Hartono tidak main-main."

Di dalam tas selempangnya yang sederhana, yang ia kenakan saat bertemu Asep, tersimpan harta karun yang tak ternilai: buku agenda kecil Ardan dan rekening koran dari Zurich Capital Bank.

Bukti fisik yang bisa menjatuhkan seorang jenderal. Ia tidak mungkin kembali ke rumahnya yang mewah. Setelah insiden laptop mati dan mobil pengintai itu, jelas rumahnya sudah tidak aman lagi. Setiap sudut mungkin sudah dipasangi penyadap, setiap gerak-geriknya diawasi.

"Brankas ibu," gumamnya, otaknya bekerja cepat. "Itu satu-satunya tempat aman. Tidak ada yang akan mencari di sana."

Ibunya tinggal di sebuah rumah sederhana di pinggiran Jakarta, jauh dari hingar-bingar dunia politik dan sosialita. Sebuah tempat yang seharusnya luput dari perhatian Hartono. Tapi Naira tahu, setelah ancaman mobil tadi, tak ada tempat yang benar-benar aman. Hanya ada tempat yang sedikit lebih aman.

Akhirnya ia menunggu hingga azan Magrib berkumandang, memanfaatkan keramaian orang yang keluar masuk masjid untuk menyelinap keluar.

Dengan hati-hati, ia memesan taksi daring dari aplikasi yang berbeda, menggunakan nomor yang berbeda pula—sebuah nomor prabayar sekali pakai yang sudah ia siapkan sebelumnya, sebagai bagian dari paranoid barunya.

Ia memilih rute memutar, meminta sopir untuk berhenti di beberapa tempat umum, sekadar untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.

"Pak, bisa berhenti sebentar di toko kelontong itu? Saya mau beli minum," kata Naira pada sopir, suaranya berusaha normal. Ia keluar, membeli sebotol air, dan melirik sekeliling. Tidak ada sedan hitam. Tidak ada wajah mencurigakan. Ia kembali masuk ke taksi.

Perjalanan ke rumah ibunya terasa seperti misi rahasia yang paling menegangkan. Setiap bayangan, setiap mobil yang melintas, terasa seperti ancaman.

Sesampainya di depan rumah ibunya, ia membayar taksi dan menunggu hingga mobil itu menjauh sebelum melangkah masuk.

"Assalamualaikum," sapanya pelan saat membuka pintu.

"Waalaikumsalam. Naira? Ya ampun, Nak, kenapa baru datang? Ibu rindu sekali," sambut ibunya, wajahnya menunjukkan kelegaan bercampur cemas. "Mau makan? kebetulan ibu hari ini memasak gulai kesukaanmu."

"Tidak, Bu, nanti saja," kata Naira cepat, memeluk ibunya erat. Ia mencium pipi ibunya, merasakan hangatnya kasih sayang tulus yang sudah lama ia rindukan. "Ibu baik-baik saja, kan?"

"Ibu baik-baik saja. Kamu ini kenapa? Pucat sekali," ibunya mengusap rambutnya.

Naira berusaha tersenyum. "Cuma agak capek saja, Bu. Banyak pikiran."

Ia melirik sekeliling. Rumah itu seperti biasa, hangat dan penuh kenangan. Tidak ada tanda-tanda gangguan. "Bu, ada yang mau Naira titip sebentar. Sangat penting. Bisa simpan di brankas Ibu?"

Ibunya mengernyit, namun tidak banyak bertanya. "Tentu saja, Nak. Apa itu? Perhiasanmu?"

"Bukan, Bu. Ini... dokumen penting," Naira berbisik, mengambil buku agenda dan rekening koran dari tasnya.

"Tolong simpan baik-baik. Jangan sampai ada yang tahu. Dan jangan pernah, jangan pernah Ibu buka."

Ibunya menatap benda-benda itu, lalu beralih ke mata Naira yang memohon. Ada kekhawatiran yang tergambar jelas di wajah ibunya. "Baik, Nak. Ibu akan simpan. Kamu tenang saja."

Naira menghela napas lega saat melihat ibunya mengunci dokumen-dokumen itu di brankas kecil di kamarnya. Setidaknya, satu risiko telah teratasi. Bukti fisik aman.

Setelah itu, ia tidak berlama-lama di rumah ibunya. Ia tahu, kehadirannya bisa membawa bahaya. Ia hanya makan malam singkat, berbagi cerita ringan yang tidak penting, dan pamit.

"Naira harus kembali ke kota, Bu. Ada urusan mendadak."

"Hati-hati, Nak," pesan ibunya, matanya penuh kekhawatiran.

Naira kembali memesan taksi, kali ini menuju apartemen sewa murah yang ia temukan secara daring beberapa hari sebelumnya—tempat yang jauh dari pantauan, di tengah hiruk-pikuk Jakarta, di mana ia bisa menghilang di antara jutaan orang.

Apartemen itu kecil, berbau apek, dan jauh dari kemewahan yang dulu ia kenal. Namun, di sanalah ia merasa paling aman.

Begitu sampai, ia langsung mengeluarkan laptop lamanya—bukan laptop Ardan yang sudah mati, melainkan laptop pribadinya yang sudah lama tidak terpakai, yang untungnya tidak disita.

Ia menyalakannya, lalu menyambungkannya ke hotspot dari ponsel prabayar yang berbeda. Ini adalah langkah pertama dalam membangun benteng digitalnya.

"Oke, Naira, ini saatnya kamu pakai semua kemampuanmu," bisiknya, jari-jarinya menari di atas keyboard.

Dulu, ia adalah seorang influencer yang piawai membangun citra, mengelola akun media sosial, dan menciptakan narasi yang menarik perhatian.

Kini, semua keahlian itu ia gunakan untuk tujuan yang berlawanan: menghilang, menyembunyikan, dan membangun jejak digital yang tak terdeteksi.

Ia mulai membuat akun-akun dummy baru di berbagai platform media sosial dan penyimpanan cloud.

Bukan hanya satu atau dua, tapi belasan. Setiap akun memiliki identitas fiktif yang berbeda, dengan riwayat aktivitas yang tampak organik, seolah-olah mereka adalah pengguna biasa.

Ia mengunggah foto-foto acak, menulis komentar-komentar umum, semua untuk membangun profil yang kuat namun tidak mencurigakan.

"Ini namanya multiple redundancies," katanya pada dirinya sendiri, matanya fokus pada layar. "Kalau satu akun ketahuan, masih ada belasan lainnya. Kalau satu penyimpanan dihapus, masih ada salinannya di tempat lain."

Ia mengunggah salinan digital dari rekening koran, agenda Ardan, dan semua informasi yang ia dapatkan dari Asep ke berbagai cloud storage yang berbeda, masing-masing dienkripsi dengan kata sandi yang rumit.

Naira menggunakan VPN yang berbeda untuk setiap unggahan, memastikan alamat IP-nya tidak terlacak.

Ia bahkan membuat skrip kecil yang akan secara otomatis mengunggah ulang data-data itu ke akun-akun dummy baru secara berkala, memastikan jejaknya selalu hidup dan sulit dihapus sepenuhnya.

Proses itu memakan waktu berjam-jam, hingga dini hari. Kepalanya terasa pening, matanya perih karena menatap layar terlalu lama.

Tapi ia tidak bisa berhenti. Setiap ketukan di keyboard adalah sebuah perlawanan, setiap file yang diunggah adalah langkah maju.

"Ini akan menjadi arsip rahasia Jenderal Hartono," gumamnya, bibirnya membentuk senyum pahit. "Aku akan pastikan semua orang tahu kejahatannya."

Namun, di balik tekad itu, ada beban berat yang menghimpitnya. Paranoia.

Setiap suara di luar apartemen, setiap dering telepon yang tak dikenal, setiap bayangan yang bergerak di tirai, memicu lonjakan adrenalin.

Ia tidak bisa tidur nyenyak, selalu merasa ada mata yang mengawasinya, telinga yang mendengarkannya.

Naira makan seadanya, sering kali lupa waktu. Tubuhnya lelah, namun pikirannya tak pernah berhenti bekerja.

Ketakutan terbesar Naira bukan lagi untuk dirinya sendiri. Ia telah memutuskan untuk menghadapi Hartono, apapun resikonya.

Namun, ia mulai takut akan dampak tindakannya pada orang lain. Pada Asep yang ketakutan, pada ibunya yang polos, pada siapa pun yang mungkin terlibat dengannya.

"Jika mereka bisa melacakku sampai ke gang sempit itu, mereka pasti bisa melacak siapa pun yang dekat denganku,"

Naira berpikir sambil menggosok pelipisnya. "Aku harus berhati-hati. Jangan sampai ada yang terluka karena aku."

Ia memilih untuk memutus semua kontak dengan teman-teman lamanya, bahkan dengan orang tuanya—kecuali jika benar-benar mendesak.

Isolasi adalah harga yang harus ia bayar demi keamanan, demi misi yang lebih besar.

Pagi menjelang. Cahaya matahari menembus tirai tipis apartemen. Naira sudah terjaga, menatap kosong ke langit-langit.

Sehari semalam ia habiskan untuk membangun benteng digitalnya, dan rasa lelah itu kini memuncak. Ia tahu, ini baru permulaan dari perjuangan panjang. Hartono pasti sedang mencarinya.

Tiba-tiba, sebuah suara di pintu mengagetkannya. Bukan ketukan, melainkan bunyi "klik" dari kotak surat kecil di bagian bawah pintu. Naira menahan napas, jantungnya berdegup kencang. Ia tidak menunggu apa pun. Ia tidak pernah memberitahukan alamat apartemen ini kepada siapa pun.

Dengan hati-hati, ia mendekati pintu, mengintip dari lubang intip. Tidak ada siapa pun di koridor. Ia membungkuk, melihat ke dalam kotak surat. Ada selembar amplop berwarna cokelat, tanpa cap pos, menonjol keluar. Tangannya gemetar saat meraihnya.

Ia merobek amplop itu, matanya menyapu isi surat yang ditulis tangan dengan huruf kapital.

"KAMI TAHU KAU BERMAIN API, NAIRA. JIKA KAU TIDAK BERHENTI, ORANG TUAMU AKAN MENDERITA. KESEHATAN IBUMU YANG RAPUH..."

« Bab Sebelumnya   |   Bab Berikutnya »
✨ Lihat sesuatu yang menarik di bawah ini

Komentar