Bab 10: Ketakutan yang Memicu Tekad
…KESEHATAN IBUMU YANG RAPUH akan segera terancam jika kau tidak berhenti.
Naira membeku, surat di tangannya terasa dingin dan tajam. Jantungnya berdebar kencang, bukan lagi karena ketakutan yang samar, melainkan amarah yang mendidih.
Ia membaca ulang kalimat itu, berulang kali, seolah setiap kata adalah bara api yang membakar matanya.
Kesehatan ibumu yang rapuh. Hartono. Dia tahu segalanya. Dia tahu kelemahannya. Dan dia tidak ragu untuk menggunakannya.
"Bajingan!" desis Naira, suaranya serak dan gemetar. Amplop itu diremasnya kuat-kuat, buku-buku jarinya memutih.
"Berani-beraninya dia menyentuh ibuku? Ibuku yang tidak tahu apa-apa? Orang tuaku yang polos itu?"
Rasa takut yang sebelumnya berpusat pada dirinya sendiri, kini meluas, berubah menjadi gelombang kemarahan yang membakar setiap sel tubuhnya.
Ini bukan lagi tentang Ardan, bukan lagi tentang kehormatan pribadinya yang tercabik-cabik.
Ini tentang orang-orang tak bersalah yang menjadi korban dalam permainan kotor Hartono. Orang tuanya adalah salah satu di antaranya. Dan para korban bansos, mereka adalah yang utama.
Ia bangkit dari duduknya, berjalan mondar-mandir di apartemen sempit itu, langkahnya berat dan penuh emosi.
"Dia pikir dia bisa menghentikanku dengan cara ini? Dia pikir aku akan menyerah hanya karena dia menyentuh orang-orang terdekatku?" Naira tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar lebih mirip isakan. "Oh, Hartono, kau salah besar."
Dia berhenti di depan jendela, menatap pemandangan gedung-gedung tinggi Jakarta yang tampak acuh tak acuh.
Dulu, ia melihat kota ini sebagai panggung kemewahan. Sekarang, ia melihatnya sebagai sarang predator, dengan Hartono sebagai salah satu raja buasnya.
"Ardan," bisiknya, memejamkan mata. "Kau memilih jalan ini. Kau memilih untuk menjadi pion. Tapi ibuku? Mereka tidak memilih apa-apa. Mereka tidak bersalah."
Pergulatan batin yang selama ini samar-samar menyelimutinya, kini menjadi jernih dan tajam.
Selama ini, sebagian kecil dirinya masih bertanya-tanya, apakah semua ini ia lakukan demi Ardan? Demi membersihkan namanya? Demi membalas dendam atas pengkhianatan yang ia rasakan?
Namun, surat ancaman ini mengubah segalanya. Itu adalah titik balik.
"Tidak, ini bukan untuk Ardan," tegasnya, membuka mata, tatapannya kini dipenuhi tekad membara. "Ardan sudah memilih jalannya. Dia harus mempertanggungjawabkan perbuatannya."
Ia membayangkan wajah-wajah para korban bansos yang dana bantuannya dicuri.
Wajah-wajah yang ia lihat di televisi, di berita, di akun-akun media sosial yang ia telusuri. Wajah-wajah yang penuh ketakutan, namun memiliki secercah harapan. Mereka semua adalah korban nyata.
Mereka yang kehilangan rumah, yang kelaparan, yang hidup dalam ketidakpastian, sementara Hartono dan jaringannya berpesta pora di atas penderitaan mereka.
"Ini untuk mereka," ujarnya, suaranya mantap. "Untuk para korban. Untuk orang-orang sepertiku yang ditarik ke dalam permainan kotor ini tanpa diminta. Untuk keadilan yang seharusnya mereka dapatkan."
Dia mengambil napas dalam-dalam, merasakan udara dingin mengisi paru-parunya. Ketakutan itu masih ada, merayap di sudut benaknya, tetapi kini ia tahu bagaimana menyalurkannya.
Ketakutan itu bukan lagi pelumpuh, melainkan pemicu. Pemicu untuk bergerak lebih cepat, lebih cerdik, lebih kejam dari Hartono itu sendiri.
"Kau pikir bisa mengintimidasiku?" Naira berbicara pada surat yang sudah lecek di tangannya, seolah Hartono ada di hadapannya.
"Kau pikir dengan mengancam orang tuaku, aku akan mundur? Justru ini membuatku semakin yakin, Hartono. Kau adalah kejahatan yang harus dihentikan."
Dia membuang surat itu ke tempat sampah, lalu mengambil laptopnya. Jari-jarinya menari di atas keyboard, mencari informasi baru. Kali ini, bukan tentang Ardan, bukan tentang dirinya sendiri.
Ia mencari tentang "dana bansos yang tidak sampai", "korupsi bantuan bencana", "hak-hak korban". Ia ingin memahami skala penuh kejahatan Hartono, bukan hanya dari sudut pandang personalnya, melainkan dari sudut pandang masyarakat luas.
"Apa yang bisa aku lakukan untuk melindungi mereka?" ia bergumam pada dirinya sendiri. "Asep benar, mereka takut. Mereka butuh seseorang yang berani bicara. Seseorang yang tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan."
Dan Naira menyadari, ia memang tidak punya apa-apa lagi untuk kehilangan. Status sosialnya sudah hancur. Pernikahannya sudah jadi lelucon. Hartanya sudah dibekukan.
Apa lagi yang bisa Hartono ambil darinya? Nyawanya? Mungkin. Tapi ia tidak akan menyerah tanpa perlawanan.
"Mereka mengira aku hanyalah istri politisi yang manja," katanya, bibirnya melengkung sinis. "Seorang sosialita yang cuma bisa menangis dan mencari simpati. Mereka meremehkanku."
Dia membuka file yang berisi foto rekening koran dari Zurich Capital Bank, dengan kode "JH/Project Alpha".
Ia menatap angka-angka itu, jumlah uang yang dicuri, dan membayangkan berapa banyak keluarga yang bisa terbantu dengan dana sebanyak itu. Amarahnya membuncah lagi.
"Ini bukan lagi tentang balas dendam pribadi, Ardan," katanya, matanya terpaku pada layar. "Ini tentang keadilan. Keadilan struktural. Aku akan membongkar semua kebusukan Hartono, sampai ke akar-akarnya."
Naira mulai membuat daftar. Daftar orang-orang yang bisa ia hubungi (secara rahasia, tentu saja).
Jurnalis yang ia kenal (Bima, yang pernah ia temui di sebuah acara amal, ia ingat Bima memiliki reputasi integritas).
Aktivis sosial yang ia ikuti di media sosial (Santi, yang ia temukan saat mencari berita tentang bencana). Ia membutuhkan sekutu. Ia tidak bisa melakukan ini sendirian.
"Mereka semua adalah bidak, Naira," katanya, mengulangi kata-kata Asep. "Bidak yang bisa dikorbankan."
Tetapi Naira menolak untuk menjadi bidak yang tak berdaya. Ia akan menjadi ratu di papan catur ini, membalikkan keadaan, menggunakan setiap ancaman sebagai bahan bakar, setiap ketakutan sebagai pengingat akan misinya.
Ia memikirkan rencana Hartono. Mengancam orang tuanya. Itu adalah serangan psikologis yang paling efektif.
Jika ia mundur, Hartono akan menang, dan para korban akan selamanya menderita dalam diam. Jika ia maju, ia mempertaruhkan segalanya.
"Tapi jika aku berhenti, apa bedanya aku dengan Ardan?" ia bertanya pada dirinya sendiri. "Seorang pengecut yang menunduk pada kekuasaan."
Tidak. Ia tidak akan menjadi seperti itu. Ia akan berjuang.
Pikirannya melaju kencang, menyusun strategi. Bagaimana cara melindungi orang tuanya? Bagaimana cara menyebarkan bukti tanpa membahayakan mereka?
Mungkin ia harus membuat mereka menghilang untuk sementara waktu. Memastikan mereka aman di tempat yang tidak akan pernah terpikirkan oleh Hartono.
"Ini akan menjadi perang," katanya, mengepalkan tangan. "Dan aku tidak akan kalah."
Ia melihat sekeliling apartemen. Tempat persembunyiannya. Bentengnya. Setiap perangkat digitalnya telah diamankan, setiap akunnya telah dikloning dan dienkripsi. Ia sudah membangun fondasi. Sekarang saatnya membangun senjata.
Naira merasa lelah, tetapi otaknya terus bekerja. Ia sudah berhari-hari tidak tidur nyenyak.
Namun, ancaman terhadap orang tuanya ini memberinya suntikan adrenalin yang aneh. Ia merasa lebih hidup, lebih fokus dari sebelumnya.
"Hartono," bisiknya lagi, seolah mengucapkan sumpah. "Kau telah membangunkan monster yang salah."
Dia menatap layar laptopnya, yang memancarkan cahaya biru redup di kegelapan dini hari. Ia merasa seolah ada kekuatan baru yang mengalir dalam dirinya, sebuah energi yang berasal dari kemarahan dan tekad.
Naira mulai merencanakan langkah selanjutnya. Menghubungi Bima. Mencari tahu lebih banyak tentang Santi. Mengidentifikasi drop point atau celah dalam jaringan Hartono yang mungkin ia lewatkan.
Tiba-tiba, telinganya menangkap suara yang membuat jantungnya melompat. Bukan suara dari luar, bukan suara lalu lintas. Itu datang dari dalam gedung. Lebih spesifik, dari lantai bawah apartemennya.
Suara itu pelan, seperti gesekan, lalu diikuti oleh... sebuah suara.
Pecahan kaca.
Naira menahan napas. Tubuhnya menegang. Itu bukan suara dari luar. Itu... dari rumahnya. Seseorang baru saja memasuki rumahnya.
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar 💛
Kalau gak mau ribet, kamu bisa pilih Anonim, lalu tuliskan namamu di akhir komentar (misalnya: by Ayu).
Jejak kecilmu berarti banyak untuk ku