Bab 8: Pertemuan Rahasia Sang Mantan Asisten

Ini seperti ada yang… menghapus datanya dari jarak jauh. Sebuah kengerian dingin menjalari tulang punggung Naira. Laptop Ardan yang tadinya menyala terang, kini hitam pekat, sunyi, seperti kuburan digital.

Ia menekan tombol daya lagi dan lagi, namun tidak ada respons. Mati total. Dan itu terjadi tepat setelah ia memotret rekening koran berisi ‘JH/Project Alpha’. Bukan kebetulan. Ini adalah peringatan. Ini adalah tanda bahwa ia tidak lagi bermain di balik layar. Ia sudah disentuh.

Ketakutan itu besar, mengancam untuk menelannya bulat-bulat, tapi di sisi lain, ada juga rasa validasi yang aneh.

Ia benar. Ardan hanyalah pion. Dan Hartono adalah dalangnya. Mereka mengawasi. Mereka tahu apa yang ia lakukan. Namun, jika mereka sudah sampai pada tahap menghapus data, itu berarti mereka juga panik.

Itu berarti ia sudah mendekat.

Naira menatap ponsel lamanya yang masih menampilkan foto rekening koran itu. Bukti digital. Meskipun laptop Ardan sudah mati, ia masih punya ini.

Tangannya gemetar, tapi ia tahu ia harus mengamankan ini. Ia segera mencolokkan ponsel itu ke sebuah hard drive eksternal yang ia simpan di brankas kecil.

Menyalin semua foto itu, lalu menghapus jejaknya dari ponsel. Setelah itu, ia mematikan ponsel itu dan menyimpannya jauh di dalam brankas.

Dua hari berikutnya, paranoia adalah teman setianya. Setiap bayangan yang bergerak di luar jendela, setiap derit lantai, setiap suara mobil yang lewat di jalanan, terasa seperti ancaman.

Ia mencoba bertindak normal, seperti yang ia lakukan saat mengunjungi gym, tetapi kali ini, ia tahu ancamannya jauh lebih nyata dan personal. Mereka tidak hanya membekukan hartanya. Mereka mengincarnya.

Namun, di tengah ketakutan itu, tekadnya semakin membaja. Pesan Asep, "Jangan bicara di telepon. Kau sudah diawasi sejak Ardan ditahan," kini terasa semakin relevan.

Asep tahu. Dan Asep adalah satu-satunya orang yang mungkin bisa memberinya detail yang lebih personal, lebih internal.

Naira mengeluarkan ponsel lamanya lagi, yang sudah ia bersihkan dari semua data. Ia menyalakannya hanya untuk sesaat, membuka aplikasi perpesanan terenkripsi yang jarang dipakai itu.

Ia mengirim pesan lagi ke Asep.

Sep, aku butuh ketemu. Sekarang. Di tempat yang aman. Aku tahu kamu takut, tapi ini demi keselamatanmu juga. Dan semua orang yang jadi korban.

Ia menekan kirim, jantungnya berdebar kencang.

Kali ini, ia tidak menunggu balasan. Ia langsung mematikan ponsel itu.

Ia akan mencarinya. Jika Asep tidak membalas, ia akan pergi ke alamat rumah Asep. Ini bukan lagi tentang menunggu. Ini tentang bergerak.

Setengah jam kemudian, ponselnya bergetar pelan. Sebuah pesan baru dari Asep.

Kedai Kopi Pelangi. Pinggir kota. Jam 3 sore. Jangan bawa apa-apa. Sendirian.

Naira membaca pesan itu. Kedai Kopi Pelangi. Sebuah tempat yang ia tahu jauh dari keramaian pusat kota, tersembunyi di antara ruko-ruko tua yang sepi. Sempurna.

Pukul dua siang, Naira sudah berada di dalam taksi daring. Ia sengaja memesan taksi dari titik yang berbeda, mengelilingi rute yang panjang, bahkan meminta sopir untuk berhenti sebentar di sebuah pasar tradisional, pura-pura membeli buah, hanya untuk memastikan tidak ada yang mengikutinya.

Ia mengenakan pakaian yang sangat sederhana, celana jeans, kaos longgar, dan topi bisbol yang menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak membawa dompet, hanya uang tunai yang disembunyikan di saku celana.

Kedai Kopi Pelangi terlihat persis seperti yang ia bayangkan: kecil, remang-remang, dengan hanya beberapa meja kosong. Aroma kopi robusta memenuhi udara.

Di sudut paling belakang, di balik tirai lusuh, ia melihat Asep. Pria paruh baya itu duduk sendirian, membelakangi pintu, bahunya tampak tegang.

Ia menyeruput kopi hitamnya, matanya terus-menerus melirik ke sekeliling, penuh kecurigaan. Wajahnya pucat, ada lingkaran hitam di bawah matanya, lebih gelap dari biasanya.

Naira berjalan mendekat, mencoba terlihat santai. "Sep?"

Asep terlonjak, cangkir kopinya nyaris tumpah. Ia menoleh, matanya membelalak kaget saat melihat Naira. "Nyonya Naira? Astaga, kenapa Nyonya datang sendiri?" Bisikannya nyaris tidak terdengar.

Naira menarik kursi di hadapan Asep. "Kau sendiri yang bilang aku diawasi. Jadi, aku harus sendiri. Bagaimana kabarmu?"

Asep mengusap wajahnya yang basah oleh keringat dingin. "Tidak baik, Nyonya. Sejak Ardan ditahan, hidup saya seperti di neraka. Saya terus-menerus merasa diawasi, seperti ada yang mengintai."

"Kau tahu kenapa aku di sini, kan?" tanya Naira, menatap Asep lurus.

Asep mengangguk pelan, menghindari tatapan Naira. "Tentu. Tentang Pak Ardan... dan Jenderal Hartono."

"Jadi, benar?" Naira mencondongkan tubuhnya sedikit. "Jenderal Hartono dalang di balik semua ini? Ardan hanya pionnya?"

Asep menghela napas panjang, lalu mengangguk lagi. Kali ini lebih mantap, namun tatapan matanya masih penuh ketakutan.

"Betul, Nyonya. Saya sudah tahu sejak awal. Pak Ardan... dia hanya menjalankan perintah. Jenderal Hartono itu atasan langsungnya di skema pencucian uang itu. Pak Ardan itu cuma... pion yang beruntung, yang kebetulan bisa mereka korbankan pas saat butuh kambing hitam."

Dada Naira terasa sesak. Kata-kata itu menghantamnya seperti pukulan. Pion yang beruntung. Jadi, Ardan bahkan tidak punya pilihan? Atau dia hanya memilih jalan termudah?

"Tapi... kenapa Ardan tidak pernah bilang apa-apa padaku?" bisik Naira, lebih kepada dirinya sendiri.

"Mana mungkin, Nyonya," Asep menjawab, suaranya pelan dan putus asa. "Jenderal Hartono tidak main-main. Dia punya mata dan telinga di mana-mana. Bahkan di dalam rumah Pak Ardan sendiri. Mungkin saja ponsel Nyonya, bahkan mungkin perangkat lain, disadap."

Naira teringat laptop Ardan yang mati mendadak. Rasa dingin kembali menjalar. "Aku tahu itu," katanya, suaranya lebih tegas. "Aku sudah menemukan beberapa bukti. Rekening koran dari bank luar negeri, dengan kode 'JH/Project Alpha'."

Mata Asep membelalak lebih lebar. "Nyonya menemukan itu? Astaga... itu bukti paling kuat. Kalau Jenderal tahu Nyonya punya itu..." Ia tidak melanjutkan kalimatnya, hanya menggelengkan kepala.

"Aku butuh lebih dari itu, Sep," kata Naira, nadanya mendesak. "Aku butuh bukti fisik. Dokumen, data, apa pun yang bisa menjatuhkan Hartono. Kau punya sesuatu, kan? Kau pasti tahu banyak."

Asep mencengkeram cangkir kopinya erat-erat, buku-buku jarinya memutih.

"Nyonya, saya tidak bisa. Saya tidak punya. Semuanya sudah mereka bersihkan. Semua data saya sudah ditarik, akun saya dibekukan. Saya tidak punya apa-apa." Air mata mulai menggenang di sudut matanya. "Kalau saya berani kasih Nyonya bukti, saya dan keluarga saya akan habis. Nyonya tidak tahu betapa kejamnya orang-orang itu."

Naira melihat kepanikan di mata Asep. Itu bukan akting. Itu ketakutan yang murni, yang mendalam.

Ia menyadari realitas pahitnya: korupsi ini bukan hanya sistemik, tetapi juga menakutkan. Orang-orang begitu takut untuk bicara, untuk memberikan bukti, karena ancamannya bukan hanya karier, melainkan nyawa.

"Oke, oke, Sep. Aku mengerti," kata Naira, mencoba menenangkan Asep. "Aku tidak akan memaksamu. Tapi, kau bisa ceritakan sesuatu padaku? Apa pun. Bagaimana mereka berkomunikasi? Apa ada kode khusus? Aplikasi? Tempat pertemuan rahasia?"

Asep menelan ludah, melirik ke pintu masuk lagi. "Ada... ada beberapa hal. Mereka punya aplikasi chat khusus, namanya 'SecureLink'. Itu hanya bisa diakses pakai VPN internal mereka. Dan setiap kali ada transfer besar atau proyek baru, mereka pakai kode nama. Seperti 'Project Alpha' yang Nyonya sebutkan. Dulu juga ada 'Project Delta', 'Project Echo'..."

"Bagaimana cara mereka mengirim instruksi penting? Atau dokumen rahasia?"

"Tidak lewat email, Nyonya. Terlalu berisiko. Mereka sering pakai 'drop point' fisik. Biasanya di perpustakaan umum di sebuah kota kecil, atau di loker gym yang jarang dipakai. Mereka akan tinggalkan amplop berisi flash disk atau dokumen kecil. Kode untuk loker atau rak buku itu hanya diberikan lewat SecureLink, dan setelah dibaca langsung dihapus."

"Flash disk?"

"Iya, Nyonya. Isinya data keuangan, rincian proyek, atau daftar nama-nama perusahaan cangkang. Selalu dienkripsi. Mereka paranoid sekali."

Asep menghela napas. "Tapi itu semua sudah lama. Saya rasa mereka sudah ganti semua itu sejak Pak Ardan ditahan."

Naira mengangguk, mencerna informasi itu. SecureLink, VPN internal, drop point, flash disk terenkripsi. Detail samar ini, meskipun tidak memberinya bukti fisik, setidaknya memberinya gambaran tentang modus operandi Hartono.

Itu adalah sebuah sistem yang rumit, dirancang untuk tidak meninggalkan jejak. Tapi ia yakin, sistem serumit apa pun pasti punya celah.

"Terima kasih, Sep," kata Naira, suaranya melembut. "Kau sudah banyak membantu."

Asep menatap Naira, ada sedikit kekaguman di matanya, bercampur dengan ketakutan. "Nyonya harus sangat hati-hati. Saya tidak tahu Nyonya bisa sampai sejauh ini. Jenderal Hartono itu... bukan orang biasa. Dia bisa melakukan apa saja."

Naira mengangguk. "Aku tahu. Dan aku tidak akan berhenti. Ini bukan lagi tentang Ardan, Sep. Ini tentang orang-orang yang dananya dicuri. Aku harus melindungi orang-orang sepertimu yang berani bicara."

Ia berdiri. "Hati-hati, Sep. Jangan sampai kita terlihat bicara lagi."

Asep hanya mengangguk, matanya masih menatap kosong ke cangkir kopinya. Naira berbalik, meninggalkan Asep di tengah remang-remang kedai kopi itu.

Langkahnya terasa lebih ringan, namun pikirannya penuh dengan rencana baru. Ia punya gambaran, ia punya nama-nama, dan ia punya tekad yang semakin kuat untuk melindungi para informan.

Ia memesan taksi daring lagi, kali ini dari aplikasi yang berbeda dan dengan rute yang lebih langsung.

Jalanan mulai ramai seiring sore menjelang. Naira menyandarkan kepalanya ke jendela, melihat hiruk-pikuk kota yang terasa begitu jauh dari dunia gelap yang baru saja ia selami.

Tiba-tiba, ia merasakan ada yang aneh.

Sebuah mobil sedan hitam, terlihat mewah namun anehnya tanpa plat nomor, berada tepat di belakang taksinya.

Jaraknya terlalu dekat. Naira mencoba mengabaikannya, mungkin hanya kebetulan. Tapi mobil itu terus mengikuti, bahkan saat taksinya berbelok ke gang yang lebih sempit.

Jantungnya mulai berdebar kencang. Ini bukan kebetulan.

"Pak, bisa belok kiri lagi di persimpangan depan?" pinta Naira kepada sopir. "Lalu langsung putar balik."

Sopir taksi mengernyit, namun menurut. "Baik, Nyonya."

Saat taksi berbelok tajam ke kiri, Naira melirik ke belakang. Sedan hitam itu ikut berbelok. Tidak ada keraguan. Mereka mengikutinya.

"Pak, bisa ngebut sedikit?" kata Naira, suaranya tegang. "Dan cari gang sempit yang bisa kita masuki, saya perlu turun di sana."

Sopir taksi itu melihat wajah Naira yang pucat dan serius. "Ada apa, Nyonya?"

"Tidak ada waktu untuk menjelaskan," desis Naira. "Cepat!"

Sopir itu menekan gas. Taksi melaju kencang, membelah kemacetan sore. Naira terus melihat ke belakang, sedan hitam itu masih mengejar, semakin dekat.

Ada dua pria di dalamnya, ia bisa melihat siluet mereka.

"Di sana, Pak! Gang itu!" Naira menunjuk ke sebuah gang sempit yang hanya cukup untuk satu mobil.

Taksi itu berbelok tajam, nyaris menyenggol gerobak bakso. Sedan hitam itu tidak bisa masuk ke gang sempit itu. Ia terpaksa berhenti di mulut gang.

"Di sini, Pak! Saya turun di sini!" Naira segera membuka pintu, melemparkan beberapa lembar uang tunai ke jok depan, lalu melompat keluar.

Ia tidak menunggu kembalian. Dengan cepat, ia berlari menyusuri gang sempit itu, berbelok lagi, lalu bersembunyi di balik tumpukan sampah.

Napasnya terengah-engah, jantungnya berdebar kencang di dadanya. Ia mendengar deru mesin mobil yang mencoba mencari jalan lain, suara klakson yang marah.

Mereka mencarinya. Dia harus menghilang. Sekarang juga.

« Bab Sebelumnya   |   Bab Berikutnya »
✨ Lihat sesuatu yang menarik di bawah ini

Komentar