Bab 7: Jejak Offshore
… yang mengarah ke sebuah rekening yang tidak pernah ia ketahui. Rekening yang kini terasa seperti benang kusut, membelit lehernya, namun juga janji akan sebuah jalan keluar.
Naira menatap amplop cokelat itu, lalu beralih ke deretan kartu kreditnya yang tak lagi berfungsi. Kontras yang menyakitkan.
Kemewahan yang dulu adalah penjara emasnya, kini lenyap, tak menyisakan apa pun kecuali tumpukan sampah kenangan.
Tapi di balik kehampaan itu, ada sebuah kejelasan yang baru. Dia tidak lagi terbebani oleh ilusi.
"Offshore Haven & Associates," bisiknya, membaca nama firma konsultan pajak di British Virgin Islands itu. Lidahnya terasa asing mengucapkan nama itu.
Dunia ini, dunia yang ia kira ia kenal, ternyata memiliki lapisan-lapisan tersembunyi yang tak pernah ia sentuh. "Jadi, ini bukan cuma di sini? Ini internasional?"
Tangannya gemetar saat ia menyentuh laptop lama Ardan yang tergeletak di meja, yang untungnya tidak ikut disita atau dibekukan. Sebuah MacBook Pro model lama, dengan stiker-stiker politik yang kini terasa menjijikkan.
Ardan punya kebiasaan yang aneh. Ia selalu menggunakan VPN, bahkan untuk hal-hal sepele, mengklaim itu demi "keamanan data politisi." Naira dulu hanya menganggap itu paranoia yang lucu, kini ia sadar itu adalah keharusan.
"Oke, Naira, tenang," ia berbicara pada dirinya sendiri, suaranya pelan dan serak. "Jika Ardan bisa menyembunyikan ini, pasti ada jejaknya. Kita harus mulai dari mana?"
Ia menyalakan laptop. Layarnya menyala dengan lambat, menampilkan wallpaper foto Ardan dan dirinya yang dulu tersenyum palsu di sebuah acara gala.
Naira menghela napas, menahan diri untuk tidak membanting laptop itu. Ia masuk dengan kata sandi Ardan yang ia tahu (tanggal pernikahan mereka, ironisnya).
Jari-jarinya menari di atas keyboard, mencari informasi tentang "Offshore Haven & Associates."
Hasil pencarian langsung membanjirinya dengan artikel-artikel berita tentang firma hukum yang dicurigai membantu pencucian uang, laporan investigasi jurnalistik tentang surga pajak, dan daftar nama klien yang sebagian besar adalah politisi atau pengusaha korup.
Jantungnya berdebar kencang. Ini bukan sekadar firma konsultan biasa. Ini adalah sarang penyamun.
"Astaga, Ardan," gumamnya, matanya membelalak membaca salah satu artikel. "Kamu benar-benar terjun ke dunia gelap begini?"
Ia mencoba mencari nama Hartono dalam daftar klien yang disebutkan. Tidak ada. Hanya inisial samar atau nama perusahaan cangkang. Itu wajar. Mereka pasti sangat berhati-hati.
Naira tahu ia harus lebih cerdik. Ia membuka aplikasi VPN yang terinstal di laptop itu, mengaktifkannya, lalu kembali mencari. Kali ini, ia mencoba mencari dengan kombinasi kata kunci: "Offshore Haven", "Indonesia", "Bansos".
Hasilnya nihil. Terlalu spesifik, atau mungkin terlalu umum jika Hartono memang pandai menyembunyikan jejaknya.
"Sial," desisnya, mengusap wajahnya yang lelah. "Ini lebih sulit dari yang kubayangkan. Aku bukan detektif."
Namun, ia tidak menyerah. Ia ingat kebiasaan Ardan yang lain: pria itu selalu meninggalkan petunjuk kecil di balik benda-benda lamanya, seolah sengaja menyiapkan jejak jika sesuatu terjadi.
Dulu, Ardan sering berkata, "Jika aku hilang, cari tahu di mana aku terakhir meninggalkan 'harta karun' kecilku." Naira selalu mengira itu hanya rayuan gombal. Kini, ia mulai berpikir itu adalah kode.
"Harta karun kecil Ardan," ia mengulang kata-kata itu. "Di mana dia akan menyembunyikan sesuatu yang penting, tapi tidak terlihat?"
Pandangannya menyapu ruang kerja Ardan yang kini terasa asing. Meja kerja yang berantakan dengan tumpukan dokumen. Rak buku yang penuh dengan literatur politik dan biografi tokoh dunia. Sebuah laci yang dulu selalu terkunci rapat.
Naira teringat Ardan pernah bercerita tentang "laci rahasia" di meja kerjanya, tempat ia menyimpan "kenangan kecil." Dulu, Naira tidak pernah tertarik. Sekarang, ia merasa harus memeriksanya. Ia mencoba membuka laci itu. Terkunci.
"Tentu saja," ia menggerutu. "Tidak mungkin semudah itu."
Ia mencoba mengingat. Ardan pernah memberitahu kata sandi untuk sesuatu yang "penting" saat mereka masih pacaran.
Sebuah tanggal. Bukan tanggal pernikahan mereka, bukan tanggal ulang tahunnya. Tapi tanggal saat Ardan pertama kali memenangkan pemilihan legislatif daerah. Ia mencoba memasukkan tanggal itu pada kunci laci.
Klik.
Laci itu terbuka. Aroma kertas lama dan sedikit bau tembakau menyengat hidungnya.
Di dalamnya, ada beberapa benda pribadi Ardan: sebuah foto lama dirinya bersama ibunya, beberapa surat cinta dari Naira (yang kini terasa seperti ejekan), dan di bawah tumpukan itu, sebuah kotak perhiasan kecil dari kayu.
Naira membuka kotak itu. Isinya bukan perhiasan, melainkan beberapa koin kuno dan sebuah jam tangan rusak. Ia membolak-balik isinya. Tidak ada yang mencurigakan.
Hampir saja ia menutup kotak itu, ketika matanya menangkap sesuatu. Ada sedikit celah di dasar kotak, seolah ada lapisan tersembunyi.
"Permainan apa lagi ini, Ardan?" ia mendesis, frustrasi.
Dengan ujung pisau kertas, ia mencoba mencongkel dasar kotak itu. Pelan-pelan, sebuah lapisan kayu terangkat, memperlihatkan sebuah ruang tersembunyi. Di dalamnya, ada selembar kertas yang terlipat rapi. Kertas itu tampak kusam, seperti sudah lama disimpan.
Dengan tangan gemetar, Naira mengambil kertas itu. Ia membukanya perlahan. Itu adalah rekening koran bank. Bukan bank lokal, melainkan bank asing.
"Zurich Capital Bank," tertera di bagian atas. Di bagian bawah, tertera nama Ardan sebagai pemegang rekening.
Naira merasakan napasnya tertahan. Ini dia. Bukti nyata. Ini bukan lagi sekadar inisial atau kode di agenda. Ini adalah rekening koran yang menunjukkan aliran dana.
Ia mulai membaca baris demi baris. Ada banyak transaksi, sebagian besar tampak seperti transaksi bisnis normal. Namun, di tengah-tengah deretan itu, matanya menangkap sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Sebuah transfer masuk dengan jumlah yang sangat besar. Jauh lebih besar dari transaksi lainnya. Jumlahnya dalam mata uang dolar Amerika, dan angkanya membuat Naira nyaris tersedak. Lebih dari sepuluh juta dolar.
Di kolom "Keterangan Transaksi", tertulis jelas: "JH/Project Alpha".
Naira membeku. "JH." Jenderal Hartono. "Project Alpha." Nama proyek fiktif yang baru ia ketahui.
Semuanya terhubung. Rekening koran ini adalah kepingan puzzle yang hilang, bukti yang tidak terbantahkan. Sebuah jembatan antara Hartono, Ardan, dan dana bansos yang dicuri.
"Ini... ini gila," bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. "Semua ini terhubung. Hartono, dia adalah dalang di balik semua ini."
Ia membolak-balik halaman rekening koran itu, mencari tanggal transaksi. Tercatat beberapa bulan yang lalu, tepat sebelum Ardan ditangkap. Ini adalah transfer terakhir, dan yang terbesar.
Naira merasakan campur aduk emosi: amarah, ketakutan, dan juga kelegaan yang aneh. Ia telah menemukan apa yang ia cari. Tapi juga, ia baru saja membuka kotak pandora yang jauh lebih berbahaya.
"Oke, Naira. Kita harus mengamankan ini," ia berbicara pada dirinya sendiri, bergerak cepat. Ia mengambil ponselnya, yang sudah lama tidak ia gunakan, dan menyalakannya.
Ia tahu tidak aman menggunakan ponselnya yang aktif, tapi ia perlu mendokumentasikan ini segera.
Ia membuka aplikasi kamera. Tangannya gemetar saat memegang rekening koran itu di bawah cahaya lampu.
Fokus. Klik. Satu foto. Lalu yang kedua, untuk memastikan. Klik.
Tepat setelah jepretan kedua, layar laptop Ardan yang menyala di sebelahnya tiba-tiba berkedip. Lalu, dalam sekejap mata, layarnya menjadi hitam pekat. Mati total. Seolah ada saklar yang dimatikan. Naira menekan tombol daya. Namun tidak ada respons.
Jantung Naira serasa berhenti. Ia menatap laptop itu, lalu ke ponsel di tangannya yang masih menampilkan foto rekening koran itu.
Sebuah kengerian dingin menjalari tulang punggungnya. Ini bukan kebetulan. Ini seperti ada yang... menghapus datanya dari jarak jauh.
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar 💛
Kalau gak mau ribet, kamu bisa pilih Anonim, lalu tuliskan namamu di akhir komentar (misalnya: by Ayu).
Jejak kecilmu berarti banyak untuk ku