Bab 3: Pengakuan di Balik Jeruji
Kini, dengan stempel buram itu di tangan, Naira melangkah menuju Rutan, kakinya terasa berat, seolah setiap jejak yang ia tinggalkan adalah sebuah janji yang akan dihancurkan.
Pak Johan menjemputnya tepat pukul sepuluh pagi, mobil mewahnya kini terasa seperti kandang besi yang membawanya menuju eksekusi.
Sepanjang perjalanan, pengacara itu hanya mengoceh tentang pentingnya menjaga citra, tentang skenario yang harus ia mainkan, seolah Naira adalah boneka yang bisa ia gerakkan sesuka hati.
Naira hanya mengangguk, kepalanya terasa penuh dengan dengungan, mengabaikan setiap kata yang keluar dari bibir Pak Johan.
Firasat buruk yang merayapinya sejak melihat stempel itu kini berubah menjadi gelombang mual yang tak tertahankan.
Rutan. Kata itu sendiri terasa dingin dan asing.
Ia terbiasa dengan lobi hotel bintang lima, butik mewah, atau galeri seni.
Bukan gerbang besi tinggi yang dijaga ketat, dinding kusam yang diselimuti lumut, dan lorong-lorong berbau disinfektan bercampur keringat dan keputusasaan.
Setiap langkahnya di dalam gedung itu terasa seperti menuruni tangga ke sebuah dunia yang sama sekali berbeda dari kehidupannya yang dulu gemerlap.
Para petugas menatapnya dengan pandangan campur aduk: rasa iba, sinis, dan rasa ingin tahu. Ia memaksakan senyum tipis, topeng terakhir dari citra yang ia pertahankan.
Setelah melalui beberapa pos pemeriksaan yang ketat, Naira akhirnya tiba di sebuah ruangan kunjungan yang kecil dan minim cahaya. Sebuah meja kayu tua dan dua kursi besi yang menempel pada lantai adalah satu-satunya perabot.
Udara di sana terasa dingin, lembap, dan berat, seolah menyimpan semua rahasia dan penderitaan yang pernah terjadi di dalamnya.
Jantung Naira berdebar kencang. Ini dia. Kesempatan untuk Ardan menjelaskan, untuk ia memahami.
Tak lama, pintu di sisi lain ruangan terbuka. Ardan melangkah masuk, dikawal seorang sipir.
Wajahnya pucat, matanya cekung, rambutnya sedikit acak-acakan. Ia mengenakan seragam tahanan berwarna oranye yang longgar, membuat tubuhnya yang dulu gagah terlihat kurus dan tak berdaya.
Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang Naira kenali: tatapan dingin, yang entah mengapa, terasa asing di wajah Ardan.
"Ardan..." bisik Naira, suaranya tercekat. Ia ingin berlari memeluknya, menanyakan apa yang terjadi, tapi kakinya terpaku.
Ardan hanya mengangguk tipis, tanpa ekspresi yang berarti. Ia duduk di kursi di seberang Naira, tatapannya menyapu ruangan sebelum kembali menatap Naira, namun tidak pada matanya. Ada jarak yang tak terlihat di antara mereka.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Naira, berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.
Ardan mendengus pelan, sebuah suara yang tidak ia kenali. "Baik-baik saja? Menurut kamu?" Suaranya datar, tanpa emosi. "Ini semua salah paham. Konspirasi politik. Sudah kubilang, kan?"
Naira merasa sesak. Ini bukan Ardan yang ia kenal. Bukan Ardan yang akan mengeluh, atau meminta pelukan, atau setidaknya menunjukkan sedikit kelemahan. "Aku... aku tahu. Pak Johan sudah bilang. Aku percaya kamu." Kalimat itu keluar begitu saja, sebuah skrip yang ia hafal.
Ardan akhirnya menatap matanya, dan di sana, Naira melihat kekosongan yang mengerikan. "Bagus. Itu yang harus kamu katakan di depan semua orang."
"Tapi... apa yang sebenarnya terjadi, Ardan? Kenapa kamu bisa sampai begini? Ini pasti ada hubungannya dengan Jenderal Hartono, kan?" Naira tidak bisa menahan diri. Ia harus tahu.
Ardan tertawa kecil, tawa yang kering dan hambar. "Hartono? Jangan bodoh, Naira. Dia itu bosku. Atau lebih tepatnya, bos kita."
Jantung Naira serasa berhenti berdetak. "Bos? Maksud kamu... apa?"
Ardan bersandar di kursinya, tatapannya kini berubah menjadi meremehkan. "Dengar, Naira. Aku tidak punya banyak waktu. Dan aku tidak mau buang-buang energi dengan drama air mata atau pengakuan dosa. Kita sudah lama menikah, jadi harusnya kamu sudah paham. Pernikahan kita ini... hanya sandiwara."
Kata 'sandiwara' itu menghantam Naira seperti palu godam. Nafasnya tercekat. "Apa... apa yang kamu katakan?"
"Pencitraan, Naira. Kamu itu aset. Istri ideal bagi politisi muda yang sedang naik daun. Cantik, cerdas, bergaul luas. Sempurna untuk kampanye, sempurna untuk menarik sponsor, sempurna untuk menutupi jejak."
Ardan berbicara seolah sedang membacakan laporan keuangan. "Aku butuh kamu untuk menunjukkan kepada publik bahwa aku adalah pria keluarga, pria yang bersih, pria yang dicintai. Dan kamu menjalankan peran itu dengan sempurna."
Naira merasa darahnya mengering. Ilusi yang ia bangun selama bertahun-tahun, cinta yang ia yakini tulus, semua hancur berkeping-keping di bawah kata-kata dingin Ardan.
"Jadi... semua itu... tidak nyata? Cinta yang kamu bilang? Janji-janji kita? Semua hanya kebohongan?" Suaranya bergetar hebat.
Ardan mengedikkan bahu. "Cinta? Realitas politik itu lebih rumit daripada roman picisan, Naira. Aku selalu menghormati peranmu. Kamu adalah pemain terbaik di timku."
Air mata yang tadinya ia tahan kini mengalir deras, membasahi pipinya. Rasa malu membakar wajahnya. Ia bukan lagi istri yang dikhianati, melainkan pion bodoh yang dimanipulasi.
"Aku... aku gak percaya kamu bisa sekejam ini, Ardan."
"Kekejaman? Ini pragmatisme, sayang." Ardan menatapnya sinis. "Kamu pikir kamu bisa hidup mewah selama ini dari mana? Dana bansos itu salah satu sumbernya, Naira. Dan kamu tahu itu, kan? Setidaknya, kamu seharusnya tahu."
"Aku tidak tahu apa-apa soal dana bansos!" bentak Naira, amarah mulai menggeser rasa sakit. "Aku hanya tahu kamu bilang kamu berjuang untuk rakyat! Aku percaya kamu!"
"Dan itu yang membuatmu jadi aset yang sangat berharga," Ardan tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak menjangkau matanya. "Kepercayaanmu yang naif itu. Sayangnya, sekarang kamu harus dikorbankan. Kecil."
"Dikorbankan?"
"Tentu saja. Ini bagian dari rencana. Aku akan masuk penjara sebentar, kemudian akan ada narasi bahwa aku adalah korban. Kamu harus tetap di luar sana, menjaga nama baik keluarga, menjaga agar tidak ada yang curiga Hartono adalah dalangnya. Kamu akan tetap menjadi 'istri setia yang berjuang untuk suaminya yang tidak bersalah', sampai saatnya tiba aku keluar dan kita bisa melanjutkan permainan ini lagi."
Naira menatapnya, matanya menyala. Bukan lagi karena kesedihan, melainkan kemarahan yang membeku. Dingin. Menggigit. "Permainan? Jadi hidupku ini hanya permainan untukmu?"
"Hidup kita, Naira. Hidup para politisi. Kita membuat keputusan sulit. Ini hanya salah satu dari keputusan itu." Ardan terdengar begitu yakin, begitu tanpa cela, seolah ia adalah seorang jenderal yang menjelaskan strategi perang. "Kamu harus kuat, Naira. Jangan sampai menangis di depan wartawan. Jaga citra. Itu yang paling penting sekarang."
Ia bangkit dari kursinya. "Waktuku sudah habis."
"Tunggu!" Naira juga ikut berdiri. "Apa maksudmu dengan 'dikorbankan kecil'? Apa yang akan terjadi padaku setelah ini?"
Ardan hanya menatapnya sekilas, pandangannya gelisah ke arah pintu, seolah ingin segera keluar dari ruangan itu. "Kamu akan baik-baik saja. Hidupmu akan sedikit... berbeda. Tapi kamu akan bertahan. Kamu cerdas. Kamu akan tahu bagaimana caranya."
Sipir di pintu memberi isyarat. Ardan mengangguk, lalu berbalik. Tapi sebelum ia melangkah melewati ambang pintu, ada sesuatu yang menarik perhatian Naira.
Gerakan cepat, hampir tak terlihat. Dengan pandangan yang masih gelisah, Ardan mendekati tempat sampah kecil di sudut ruangan, di samping meja tempat mereka duduk.
Tangannya bergerak secepat kilat, menyelinap ke dalam saku seragamnya, mengeluarkan sebuah buku agenda kecil berwarna hitam.
Tanpa ragu, ia menyelipkan buku itu ke dalam tempat sampah, di bawah tumpukan kertas bekas yang berserakan.
Naira melihat semuanya. Matanya menajam. Itu bukan gerakan biasa. Itu gerakan seorang pria yang menyembunyikan sesuatu. Sebuah tindakan rahasia, di balik punggung sipir yang mengawalnya.
Buku agenda kecil itu. Apa isinya? Mengapa Ardan harus menyembunyikannya seperti itu, di tempat yang ia kira tidak akan ada yang melihat? Sebuah gelombang baru, campuran rasa penasaran dan determinasi yang membara, membanjiri hati Naira.
Ia tidak akan membiarkan dirinya menjadi pion yang dibuang begitu saja. Tidak lagi.
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar 💛
Kalau gak mau ribet, kamu bisa pilih Anonim, lalu tuliskan namamu di akhir komentar (misalnya: by Ayu).
Jejak kecilmu berarti banyak untuk ku