Bab 2: Simpati Beracun
"Hati-hati dengan siapa yang kau anggap suami."
Pesan itu terbaca dingin, menusuk hingga ke ulu hati. Naira menjatuhkan ponselnya ke wastafel, suaranya berdentang memantul di kamar mandi yang kosong.
Siapa? Siapa yang berani mengirim pesan seperti itu? Tangannya gemetar, bukan lagi karena lelah, tapi karena amarah yang tiba-tiba membakar.
Ia memungut kembali ponselnya, jari-jarinya menari cepat mencari nomor asing itu, tapi tidak ada. Pesan itu menghilang, seolah tak pernah ada. Atau memang sengaja dihapus?
Ia menatap pantulan dirinya yang lelah di cermin, mata sembabnya memancarkan kebingungan dan ketakutan yang mendalam. Citra kesempurnaan itu telah retak, pecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang tak mungkin lagi disatukan.
Namun, ia tidak punya waktu untuk berlarut dalam kesedihan. Kerumunan wartawan di luar rumahnya masih berteriak, meminta pernyataan, menuntut jawaban.
Dua hari berikutnya adalah neraka yang tak berkesudahan. Rumahnya, yang dulu benteng privasi mewah, kini menjadi sirkus media. Setiap kali ia mencoba melangkah keluar, kilatan kamera menyambar, mikrofon berjejer, dan pertanyaan-pertanyaan menusuk menghujaninya.
"Nyonya Ardan, apakah Anda akan mengajukan gugatan cerai?"
"Apakah Anda tahu tentang aliran dana korupsi suami Anda?"
"Bagaimana perasaan Anda mewakili suami seorang koruptor?"
Naira hanya bisa menunduk, mengabaikan mereka, dan bergegas masuk kembali ke dalam. Sopir pribadinya, Pak Budi, terlihat jauh lebih tua dari usianya, kelelahan menghadapi kerumunan setiap hari.
"Maaf, Nyonya. Mereka makin menggila," kata Pak Budi suatu sore, saat Naira akhirnya berhasil masuk setelah membeli beberapa kebutuhan pokok dari supermarket terdekat. Ia harus menyamar dengan kacamata hitam besar dan topi lebar, namun tetap saja dikenali.
"Tidak apa-apa, Pak Budi. Saya tahu Anda sudah berusaha keras," jawab Naira, suaranya serak. Ia merasa seperti buronan di rumahnya sendiri.
Ponselnya tak henti-hentinya berdering. Bukan lagi dari jurnalis, melainkan dari teman-teman sosialitanya.
Panggilan 'simpati' yang beracun.
Ia tahu persis apa yang mereka inginkan: informasi, gosip terbaru, dan kesempatan untuk merayakan kehancurannya secara tidak langsung.
Panggilan pertama dari Clara, teman arisan yang selalu menganggap dirinya rival.
"Naira sayang! Ya ampun, aku turut prihatin sekali dengar kabar Ardan. Kamu pasti terpukul banget, ya?" Suara Clara terdengar lembut, tapi ada nada kegembiraan yang tak bisa disembunyikan.
Naira menarik napas dalam. "Aku baik-baik saja, Clara. Ini pasti cuma salah paham."
"Salah paham gimana, Naira? Kan sudah di TV mana-mana, Ardan sudah ditahan KPK. Duh, kasihan banget kamu. Gimana, aset-aset kalian aman?"
"Aku belum tahu apa-apa, Clara. Semua masih dalam proses. Aku harus tutup dulu, ya," kata Naira cepat, memutus panggilan. Ia merasakan gelombang mual.
Tak lama, telepon berdering lagi. Kali ini dari Tania, teman dekatnya yang dulu sering curhat dengannya tentang masalah rumah tangga.
"Naira, ini Tania. Kamu gimana? Aku dengar beritanya, ya ampun, kaget banget! Aku yakin Ardan nggak mungkin begitu." Nada Tania lebih tulus, tapi tetap saja ada dorongan untuk mengorek.
"Kamu sudah ketemu Ardan? Dia bilang apa? Apa ini ada hubungannya sama Jenderal Hartono yang waktu itu pernah kamu ceritakan?"
Naira terdiam. Jenderal Hartono. Nama itu seperti sambaran petir. Ia memang pernah bercerita sekilas pada Tania tentang Ardan yang terlihat agak cemas setiap kali berinteraksi dengan Jenderal Hartono di acara-acara politik. Tapi itu sudah lama sekali.
"Tania, aku juga nggak tahu apa-apa. Nanti kalau sudah ada kabar, aku pasti cerita. Sekarang aku butuh waktu sendiri dulu," balas Naira, berusaha mempertahankan ketenangannya.
"Oke, oke, aku ngerti kok. Kalau butuh apa-apa, bilang aja ya. Aku selalu di pihakmu," kata Tania, terdengar sedikit kecewa karena tidak mendapatkan informasi yang ia inginkan.
Naira mematikan ponselnya, meletakkannya di meja. Kepalanya pening. Ia tidak bisa percaya pada siapa pun lagi.
Di tengah kekacauan itu, pada hari ketiga setelah penangkapan Ardan, bel pintu rumahnya berbunyi. Bukan wartawan, melainkan seorang pria paruh baya dengan setelan jas mahal, membawa tas kulit.
Dia adalah Pak Johan, pengacara Ardan.
"Nyonya Naira, saya Johan. Pengacara Pak Ardan," katanya memperkenalkan diri dengan sopan, namun tatapannya dingin dan menuntut. "Kita harus bicara. Ada banyak hal yang perlu Anda ketahui."
Naira mempersilakan Pak Johan masuk ke ruang tamu yang kini terasa asing dan hampa.
Lampu-lampu kristal, yang dulu memancarkan kemewahan, kini terasa redup, tak mampu menerangi kegelapan yang menyelimuti hatinya.
"Silakan duduk, Pak Johan," kata Naira, berusaha terdengar profesional.
Pak Johan duduk di sofa, menatap Naira dengan tajam. "Saya yakin Anda sudah tahu situasinya. Pak Ardan ditahan KPK, dan tuduhannya sangat serius. Pencucian uang dan korupsi dana bansos. Ini bukan main-main."
Naira mengangguk, tangannya saling meremas. "Saya tahu, Pak. Saya sangat terpukul."
"Baik. Kita tidak punya waktu untuk itu sekarang," potong Pak Johan dingin. "Fokus kita adalah meminimalkan kerusakan. Pak Ardan mengirim saya untuk mengatur pertemuan Anda dengannya di Rutan. Ini penting sekali."
"Kapan saya bisa menjenguknya?" tanya Naira, ada secercah harapan di hatinya. Mungkin Ardan bisa menjelaskan semuanya.
"Besok pagi. Saya sudah mengurus izinnya. Tapi sebelum itu, ada beberapa hal yang harus Anda pahami. Anda harus bertindak sebagai istri yang setia dan mendukung suami sepenuhnya. Tidak ada keraguan, tidak ada air mata di depan publik yang menunjukkan Anda goyah."
Naira menatapnya bingung. "Maksud Bapak?"
"Kita sedang membangun narasi, Nyonya Naira," jelas Pak Johan, suaranya merendah, penuh penekanan.
"Narasi di mana Pak Ardan adalah korban konspirasi politik. Dia dijebak. Dan Anda, sebagai istri, adalah benteng pertahanannya. Anda harus menunjukkan bahwa Anda percaya penuh padanya, apa pun yang terjadi."
"Tapi... apakah ini benar?" tanya Naira lirih, suaranya nyaris tak terdengar.
Pak Johan mengangkat alisnya. "Benar atau tidak, itu urusan pengadilan. Urusan kita adalah opini publik. Anda harus datang ke Rutan, dan terlihat kuat, juga tegar."
"Sampaikan kepada Pak Ardan bahwa Anda akan selalu di sisinya. Di depan wartawan yang pasti akan menunggu, Anda harus bilang bahwa Anda mendukung suami Anda sepenuhnya, dan percaya dia tidak bersalah. Tekankan bahwa ini adalah ujian berat bagi keluarga Anda, dan Anda akan melaluinya bersama."
Ia mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. "Ini adalah poin-poin yang harus Anda sampaikan jika ada wartawan yang bertanya. Tolong hafalkan. Jangan sampai ada kata yang melenceng."
Naira mengambil kertas itu. Matanya menyapu deretan kalimat yang terasa asing, seperti skrip drama yang harus ia mainkan. "Pencemaran nama baik... Fitnah keji... Konspirasi politik..."
"Persis," kata Pak Johan, mengawasi reaksi Naira. "Dan di dalam Rutan, Anda harus mendengarkan Pak Ardan. Dia akan memberikan instruksi lebih lanjut. Jangan banyak bertanya, cukup dengarkan dan pahami."
Hati Naira mencelos. Instruksi? Dari Ardan? Seolah ia adalah pion dalam permainan yang lebih besar, dan ia harus mengikuti setiap langkah tanpa protes.
Pertanyaan-pertanyaan membanjiri benaknya. Mengapa Ardan tidak bisa menjelaskan padanya secara langsung? Mengapa ia harus bermain sandiwara di depan publik? Dan mengapa ia merasa ada sesuatu yang jauh lebih gelap di balik semua ini?
Naira merasakan nalurinya berteriak. Ada yang tidak beres. Kepatuhan total Ardan pada narasi ini, ketenangan Pak Johan yang mencurigakan, dan pesan misterius di ponselnya.
Semua seperti kepingan puzzle yang tidak pas. Ardan yang ia kenal adalah pria idealis, berapi-api, dan tidak akan pernah mau menjadi korban yang dijebak.
Kecuali... kecuali ia memang bersalah, dan ini adalah bagian dari rencana untuk menyelamatkan diri?
"Saya mengerti, Pak Johan," kata Naira pelan, menyembunyikan badai yang berkecamuk di dalam dirinya.
Pak Johan tersenyum tipis, senyum kemenangan. "Bagus. Saya yakin Anda bisa melakukannya, Nyonya Naira. Anda selalu menjadi aset yang berharga bagi Pak Ardan."
Kata 'aset' itu bergaung di telinga Naira. Aset. Bukan istri, bukan belahan jiwa. Hanya sebuah aset.
"Ini izin besuk Anda," kata Pak Johan, menyerahkan selembar kertas tebal. "Jangan sampai hilang. Besok pagi jam sepuluh, saya akan menjemput Anda."
Setelah Pak Johan pergi, rumah itu kembali sunyi, hanya menyisakan Naira yang tenggelam dalam pikirannya.
Ia menatap kertas di tangannya. Izin besuk. Sepucuk harapan untuk mendapatkan jawaban dari Ardan.
Ia membalik kertas itu, memeriksanya. Di sudut kanan bawah, ada stempel. Sebuah stempel yang buram, tintanya pudar, dan gambarnya tidak jelas.
Naira mendekatkan kertas itu ke matanya, mencoba mengenali logo atau tulisan yang samar. Tapi tidak ada. Hanya gumpalan tinta abu-abu yang membentuk lingkaran tidak sempurna.
Ia yakin, itu bukan stempel resmi dari institusi mana pun. Bahkan bukan dari KPK, atau pengadilan, atau kepolisian. Stempel itu terasa asing, seperti tanda rahasia dari sebuah organisasi yang tidak ingin dikenali.
Tangan Naira gemetar, bukan lagi karena lelah, tapi karena firasat buruk yang merayapi seluruh tubuhnya.
Firasat bahwa ia baru saja menerima tiket masuk ke dalam permainan yang jauh lebih rumit dan berbahaya dari yang ia bayangkan.
Sebuah permainan di mana ia adalah bidak, dan stempel buram ini adalah cap kepemilikan.
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar 💛
Kalau gak mau ribet, kamu bisa pilih Anonim, lalu tuliskan namamu di akhir komentar (misalnya: by Ayu).
Jejak kecilmu berarti banyak untuk ku