Wrong Group, Right Man

Wrong Group, Right Man

Oleh: Neng Ayu Tanjung

Matahari di atas kampus sedang terik-teriknya, tapi itu bukan masalah bagiku. Bagiku, tembok setinggi dua meter di belakang gedung fakultas ini hanyalah rintangan kecil. Dengan satu lompatan lincah dan tumpuan kaki yang pas, aku sudah bertengger di dahan pohon rambutan milik tetangga kampus.

"Nah, ini dia yang merah merona," gumamku sambil memetik satu ikat. Aku tertawa kecil. Siapa peduli soal aturan? Toh, yang punya pohon juga kaya raya. Lagipula, memanjat begini jauh lebih seru daripada duduk manis mendengarkan ceramah teori.

"Ehem." Suara dehaman berat itu membuat jantungku hampir copot. Aku menoleh ke bawah. Di sana, berdiri pria dengan kemeja slim-fit yang rapi tanpa cela. Pak Adrian. Dosen baru yang dijuluki 'Malaikat Maut' karena disiplinnya yang gila.

"Turun kamu, sekarang," perintahnya dingin. Matanya menatapku tajam di balik kacamata hitamnya.

Aku melompat turun dengan sekali gerakan, mendarat dengan mulus di depannya. "Eh, Pak Adrian. Mau rambutan? Manis lho," tawarku sambil nyengir tanpa dosa.

"Kamu itu mahasiswi apa monyet sirkus?" ucapnya datar tapi menusuk. "Tindakanmu ini memalukan kampus dan orang tuamu. Mencuri, memanjat... apa kamu tidak punya rasa malu sedikit pun?"

Aku mengerucutkan bibir. "Yaelah Pak, cuma rambutan doang. Gak usah berlebihan deh."

"Sesuatu yang besar berawal dari hal kecil yang disepelekan. Mulai besok, daripada kamu jadi pencuri buah, lebih baik bantu saya di lab setelah kelas." ucapnya sambil berlalu tanpa menunggu jawabanku.

"Dih, amit-amit! Siapa juga yang mau bantu dosen killer kayak dia," gerutuku sambil berjalan cepat menuju kantin.

Sambil menunggu kelas berikutnya, aku duduk di pojok kantin. HP-ku bergetar hebat. Grup WhatsApp kelas sedang "kebakaran" membahas tugas yang menumpuk. Di sisi lain, aku sedang asyik memaki-maki Pak Adrian lewat chat pribadi ke temanku, Maya.

Jempolku menari dengan kecepatan kilat di atas layar. Aku memang tidak sabaran. Kalau Maya tidak balas dalam sedetik, aku akan menutup aplikasi, mengunci layar, lalu menyalakannya lagi dengan kasar. Ceklek. Nyala. Ceklek. Mati.

"May, sumpah ya si Adrian itu beneran sakit jiwa! Masa gue dibilang monyet sirkus gara-gara rambutan? Sok ngatur banget hidup gue, mentang-mentang dosen baru. Emang sih, gue akuin dia ganteng banget, mukanya kayak aktor-aktor drakor gitu, tapi nyebelinnya nggak ketulungan! Pengen gue tabok pake kulit rambutan deh rasanya!"

KLIK. Karena terburu-buru ingin mengunci HP, jempolku malah menekan tombol Enter pada notifikasi yang baru muncul.

Deg. Duniaku serasa berhenti berputar. Pesan itu tidak terkirim ke Maya. Pesan itu mendarat manis di GRUP KELAS.

"Mampus..." bisikku lemas.

Layar HP-ku langsung meledak dengan notifikasi. Tring! Tring! Tring! "Waduuuuh, ada yang ngakuin Pak Adrian ganteng nih!" "Woy, salah grup ya? Hahaha!" "Siap-siap diciduk di lab, neng!"

Tanganku gemetar. Aku ingin menghapus pesan itu, tapi jempolku mendadak kaku. Mau dibuka, aku nggak kuat melihat ejekan teman-temanku. Mau dibanting, tapi ini HP satu-satunya. Gimana dong?

"Kualat bener gue..." aku menyandarkan kepala ke meja kantin yang dingin, meratapi nasib. Bayangan wajah Pak Adrian yang dingin tapi tampan itu mendadak melintas di otakku. Kalau dia sampai tahu isi chat ini, aku mending pindah kampus aja deh!

Aku kembali menatap layar ponselku dengan napas yang memburu. Tanganku gemetar hebat, saking paniknya sampai keringat dingin mulai membasahi dahi.

"Oke, tenang... tenang... aku cuma perlu klik tahan, lalu hapus," bisikku pada diri sendiri, mencoba mengumpulkan keberanian yang tersisa.

Sebelum benar-benar memusnahkan bukti "kriminal" itu, rasa penasaran yang beracun tiba-tiba muncul. Aku menekan info pesan.

Sudah dibaca oleh: Budi, Siska, Maya, Rio... Aku menghela napas lega. Nama 'Pak Adrian' belum ada di sana. Syukurlah, setidaknya nyawaku masih.

Tanpa berlama lama lagi sebelum di dosen killer baca, aku segera menekan tombol tempat sampah, bersiap memilih Delete for Everyone.

Tapi tepat saat ujung jariku hampir menyentuh layar, sebuah perubahan kecil terjadi. Ikon profil tanpa foto itu tiba-tiba bergeser naik ke kolom "Read by". Adrian (Dosen).

"ANJIR! APES BANGET GUE!" teriakku tertahan di pojok kantin sampai-sampai beberapa orang menoleh.

Waktuku habis. Dia sudah masuk ke dalam room chat. Di bayanganku, sekarang dia pasti sedang memegang ponselnya dengan wajah datar, membaca baris demi baris kalimatku yang bilang dia "Ganteng tapi nyebelin" dan "Sakit jiwa".

Sambil memejamkan mata rapat-rapat dan berdoa dalam hati, aku menekan tombol 'Delete for Everyone' dengan sekuat tenaga, seolah-olah kalau aku menekannya lebih keras, memorinya tentang chat itu juga akan terhapus.

Pop! Pesan ini telah dihapus.

Aku menyandarkan punggung ke kursi dengan lemas. Tubuhku rasanya tak bertulang. Memang pesannya sudah hilang, tapi pertanyaannya: Seberapa cepat Pak Adrian membaca? Apakah dia baru baca bagian "Sakit jiwa"-nya saja, atau sudah sampai ke bagian "Ganteng banget kayak aktor drakor"?

Tiba-tiba, HP-ku bergetar lagi. Bukan dari grup, tapi sebuah pesan pribadi.

Dari: Pak Adrian. "Tindakan ceroboh berawal dari kebiasaan yang tidak rapi. Saya tunggu di lab sepuluh menit lagi. Jangan telat satu detik pun, atau hukumanmu bertambah."

Duniaku runtuh. Dia bukan cuma baca, dia bahkan sudah menyiapkan "kandang" buat aku di lab. Sepertinya aksi manjat pohon rambutan tadi belum ada apa-apanya dibanding drama lab yang bakal aku hadapi sore ini.

"Mampus lo… mampus!" gumamku sambil mulai merapikan tas dengan gerakan lemas, bersiap menyerahkan diri ke kandang macan.

✨ Lihat sesuatu yang menarik di bawah ini

Komentar