Setan Berwujud Manusia
Setan Berwujud Manusia
Suara adzan Maghrib baru saja usai bersahut-sahutan dari corong masjid. Di rumah Pak Surya, suasana seharusnya khusyuk, tapi bagi Fina, Maghrib adalah perlombaan melawan waktu dan melawan kakaknya, Ayu.
Fina masih asyik mematut diri di depan cermin kamar. Ia membetulkan letak anak rambutnya, lalu mencoba-coba gaya mukena yang paling pas.
Ia tidak sadar kalau Ayu sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah datar, menenteng mukena, dan air wudhu yang masih membasahi wajahnya.
"Lama banget sih, Fin! Ngaca mulu, mau sholat apa mau audisi model?" semprot Ayu.
"Bentar ih, Kak! Kan harus rapi menghadap Tuhan!" balas Fina tidak mau kalah.
Kamar mereka memang sempit. Hanya ada satu ruang kosong di antara dua tempat tidur yang pas untuk membentangkan satu sajadah. Mau tidak mau, mereka harus gantian.
Karena Fina kelamaan dandan, Ayu akhirnya menyerah dan rebahan di kasur sambil menunggu adiknya selesai.
"Awas ya kalau lama-lama!" ancam Ayu.
Fina akhirnya membentangkan sajadah. Ia menghirup napas panjang, berusaha fokus.
Allahu Akbar.
Baru saja jempolnya menyentuh telinga saat takbir, suasana kamar yang tadinya hening berubah jadi horor komedi.
Ayu yang tadinya rebahan, tiba-tiba bangkit duduk. Matanya mulai berkilat jenaka. Penyakit "geram pengen ganggu orang sholat" yang dibilang gurunya dulu mulai kambuh.
"Eumm... besyem besyem beesyem..." bisik Ayu dengan suara ditekan, persis seperti suara orang lagi merapal mantra aneh di dekat telinga Fina.
Bahu Fina mulai bergetar. Ia tahu itu suara Ayu yang sedang meledeknya.
Fina berusaha keras menahan tawa, membaca Al-Fatihah dengan suara yang agak dikeras-keraskan untuk menutupi suara kakaknya.
Tapi Ayu belum selesai. Ia makin menjadi-jadi. "Aduh... ya Allah, aku tuh sebenernya mau banget satu kelompok sama Balil... kok malah dapetnya gorila sih," gumam Ayu dengan nada sedih yang dibuat-buat, tepat di belakang kepala Fina.
Deg!
Fina hampir saja meledak tawanya. Balil adalah cowok yang lagi sering dibahas di sekolahnya, dan sebutan "gorila" itu jelas merujuk ke salah satu teman sekelas Fina yang badannya bongsor.
Fina menggigit bibir bawahnya kuat-kuat sampai sakit demi mempertahankan sholatnya.
"Eum, khusyuk katanya... aduh, beda ya orang kuat iman mah. Dunia terasa milik sendiri, yang lain kontrak," sindir Ayu lagi.
Ayu mulai turun dari kasur. Inilah serangan fisiknya. Ia tidak menarik sajadah Fina sampai lepas, tapi dia memegang ujung sajadah itu dan menarik-ulurnya dengan gerakan mengejutkan.
Srak! Srak!
Fina yang lagi posisi berdiri langsung goyah. Tubuhnya oleng. Ia hampir jatuh tersungkur kalau tidak buru-buru menyeimbangkan kaki. Di sampingnya, Ayu sudah menutup mulut menahan tawa yang meledak-ledak melihat adiknya sempoyongan di atas sajadah.
Memasuki rakaat terakhir, Fina sudah tidak tahan lagi. Atmosfer kamar sudah terlalu beracun buat ibadahnya. Begitu sujud terakhir selesai dan ia duduk tahiyat akhir, Fina mempercepat bacaannya secepat kilat.
Assalamualaikum warahmatullah...
Belum sempat salam kedua selesai sempurna, Fina langsung menyambar mukenanya, berdiri, dan lari tunggang langgang keluar kamar.
"AYAH!! KAKAK GANGGUIN FINA!!" teriaknya sambil lari menuju ruang tengah, tempat yang biasa mereka pakai untuk mengaji bareng Ayah.
Ayu yang melihat adiknya lari langsung panik. Tawanya seketika hilang, berganti mode "gercep". Ia tahu kalau Fina sudah lapor Ayah, dia bisa kena ceramah satu jam.
Dengan gerakan super cepat, Ayu membentangkan sajadah yang tadi dipakai Fina, memakai mukena dalam hitungan detik, dan langsung takbiratul ihram Allahu Akbar tepat saat Pak Surya menoleh ke arah kamar.
Fina sampai di ruang tengah dengan napas terengah-engah, siap mengadu. Namun, ia tertegun melihat pemandangan di depan matanya.
Di sana, Ayu sedang sholat dengan sangat tenang, gerakannya lambat dan sangat khusyuk, seolah-olah dia adalah gadis paling sholehah di muka bumi.
Ayah menoleh ke Fina, lalu menaruh Al-Qur'an di pangkuannya. "Kenapa teriak-teriak, Fin? Itu kakakmu lagi sholat tenang banget gitu kok dibilang ganggu?"
Fina melongo. Ia menatap kakaknya yang sedang ruku' dengan sangat khidmat. Di balik mukenanya, Fina yakin Ayu pasti lagi nyengir kemenangan.
"Tadi dia narik sajadah Fina, Yah! pas lagi sholat. Terus ngomongin Balil sama gorila!" adu Fina dengan nada gemas.
Pak Surya menggeleng-gelengkan kepala. "Masa orang sholat bisa ngomongin gorila? Sudah, duduk sini, siapin Mushaf-mu. Tunggu Kak Ayu selesai."
Fina duduk dengan wajah ditekuk, meremas pinggiran mukenanya. Benar-benar "setan berwujud manusia," batinnya. Kakaknya itu baru saja melakukan kejahatan tingkat tinggi dan sekarang berlindung di balik status "sedang ibadah" supaya tidak bisa diomeli.
Ayu menyelesaikan sholatnya, mencium tangan Ayah dengan sopan, lalu melirik ke arah Fina dengan satu kedipan mata nakal. Permainan hari ini: Ayu menang telak.
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar 💛
Kalau gak mau ribet, kamu bisa pilih Anonim, lalu tuliskan namamu di akhir komentar (misalnya: by Ayu).
Jejak kecilmu berarti banyak untuk ku