Pertemuan Tanpa Kata

Arsip • Prosa Liris

Pertemuan Tanpa Kata

Oleh: Ziandra Dirgantara

Diaku jiwaku... sosok gadis delapan tahun yang kini menjadi pusat semestaku.

Siapa sangka, tahun 2017 adalah gerbang pertama di mana semesta mempertemukan kita. Ingatanku masih sangat jernih menyimpannya; sebuah panggung sandiwara sekolah yang riuh, di mana aku hanyalah seorang anak laki-laki biasa berusia sebelas tahun yang sedang memainkan peran kecil.

Aku bukan tokoh utama yang bermandikan cahaya lampu panggung; aku hanyalah seorang asisten pemburu, berdiri di sisi gelap narasi, menjalankan peran yang mungkin tak akan diingat siapa pun setelah tirai ditutup.

Namun, di tengah lautan penonton yang matanya tertuju pada sang lakon utama, aku merasakan sesuatu yang ganjil. Ada satu titik fokus yang tidak biasa.

Di sana, di antara deretan kursi, duduk seorang gadis kecil yang asing. Kamu bukan dari sekolahku—aku belum pernah melihat wajahmu di koridor mana pun.

Namun, caramu melihatku sungguh luar biasa. Dengan wajah judes dan postur mungil yang seolah menunjukkan watak pemarah, kamu menatapku dengan intensitas yang tak masuk akal untuk anak seusiamu.

Tatapanmu tajam, menusuk, dan tak berpaling.

Seolah-olah di matamu, akulah pusat pertunjukan itu. Aku ingat betapa aku merasa geli sekaligus heran; bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa memiliki sorot mata sekuat itu?

Kamu hanya diam, tanpa senyum, tanpa suara, hanya ada tatapan yang seolah sedang mengunci bayanganku ke dalam memorimu.

Hari itu, aku tidak tahu siapa namamu. Aku hanya tahu bahwa di tengah riuhnya tepuk tangan untuk orang lain, ada satu jiwa yang kehadirannya terasa begitu nyata hanya melalui sepasang mata yang "galak" namun jujur.

Itulah pertemuan pertama kita. Sebuah pertemuan tanpa kata, di mana aku hanya seorang asisten pemburu yang tak sengaja berburu perhatian seorang gadis kecil yang misterius.

Komentar