Pelukan Tuhan

Pelukan Tuhan

Oleh: Neng Ayu Tanjung

Nama pria itu adalah Baskara. Namun, di rumahnya, dia tidak dikenal sebagai Baskara si manusia biasa; dia adalah "ATM berjalan", dia adalah "Tembok Kokoh", dia adalah "Harapan Satu-satunya".

Sore itu, di lantai dua puluh sebuah gedung perkantoran mewah di Jakarta, Baskara menatap pantulan dirinya di kaca jendela yang besar.

Di usianya yang baru dua puluh enam tahun, dia sudah menjabat sebagai direktur operasional sebuah perusahaan logistik yang dia rintis dari nol.

Jasnya mahal, jam tangannya bermerek, dan mobilnya menunggu di lobi dengan sopir pribadi.

Dari luar, Baskara adalah definisi sukses. Dari luar, Baskara adalah pemenang. Namun, saat dia melonggarkan dasinya, Baskara merasa kain sutra itu seperti tali gantungan yang perlahan mencekik lehernya.

Ingatannya melompat ke sepuluh tahun lalu.

Saat itu, Baskara baru saja merayakan kelulusan SMP. Dia punya mimpi masuk ke SMA favorit dan menjadi arsitek. Namun, Tuhan punya rencana lain yang saat itu ia anggap sangat kejam.

Ayahnya, seorang kuli bangunan yang jujur, jatuh dari lantai tiga proyek dan meninggal seketika.

Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga yang sering sakit-sakitan. Ada dua adik, Rio dan Siska, yang masih SD.

Sebagai anak laki-laki pertama, Baskara tidak punya pilihan. Dia meletakkan ijazah SMP-nya di dalam lemari paling bawah, mengubur mimpinya, lalu pergi ke pasar untuk memanggul beras.

"Jangan menangis, Bas. Kamu laki-laki. Kamu harus kuat buat ibu dan adik-adik," bisik ibunya malam itu.

Sejak saat itu, Baskara melarang dirinya untuk lemah. Selama sepuluh tahun, dia bekerja dua puluh jam sehari. Dari kuli panggul, tukang ojek, hingga nekat membangun jasa kurir kecil-kecilan yang kini menggurita.

Dia berhasil. Rio kini sudah lulus Sarjana Hukum, dan Siska baru saja wisuda sebagai Dokter. Keduanya dibiayai oleh keringat Baskara yang tidak pernah kering.

***

Malam ini, rumah Baskara ramai. Ada syukuran kecil karena Siska diterima di rumah sakit ternama. Meja makan penuh dengan makanan enak.

Rio sibuk memamerkan laptop barunya, hadiah dari Baskara. Ibu tersenyum lebar, tampak sehat dan bangga.

"Mas Bas memang hebat. Kalau nggak ada Mas, kita mungkin sudah jadi gelandangan," celoteh Siska sambil tertawa.

Baskara tersenyum. Senyum yang dia latih selama bertahun-tahun agar terlihat tulus. Namun, di dalam hatinya, dia merasa hampa. Tidak ada satu pun dari mereka yang bertanya, "Mas Bas, hari ini capek nggak?" atau "Bas, kamu pengen istirahat nggak?"

Bagi mereka, Baskara adalah pahlawan yang tidak bisa terluka.

Mereka tidak tahu betapa sering Baskara menepi di pinggir jalan tol hanya untuk memejamkan mata selama lima menit karena kepalanya berdenyut hebat akibat tekanan utang perusahaan atau masalah birokrasi.

Mereka tidak tahu bahwa setiap malam Baskara bertanya-tanya, kapan giliran dia yang dilindungi?

Dia merasa muak. Sukses ini terasa seperti penjara. Dia ingin berteriak bahwa dia hanya lulusan SMP yang lelah berpura-pura pintar di depan para pemegang saham.

Dia ingin mengeluh bahwa dia merindukan masa remaja yang hilang. Tapi dia tidak bisa. Pahlawan tidak boleh mengeluh.

***

Malam itu, Baskara keluar rumah tanpa tujuan. Dia menyetir sendiri menembus hujan. Selama sepuluh tahun, Baskara marah kepada Tuhan.

Dia berhenti sholat sejak jenazah ayahnya diturunkan ke liang lahat. Dia merasa Tuhan tidak adil. Kenapa dia yang harus jadi korban keadaan?

Tanpa sadar, kemudi mobilnya mengarah ke sebuah masjid tua dengan kubah perak yang sudah kusam di pinggiran kota.

Saat dia memarkirkan mobilnya, terdengar suara iqamah berkumandang. Panggilan itu seperti tarikan magnet yang sangat kuat.

Baskara turun, membiarkan tubuhnya sedikit basah oleh hujan. Dia menuju tempat wudhu dengan langkah ragu. Air dingin itu menyentuh kulitnya, membasuh debu jalanan dan sedikit demi sedikit mengikis kerak amarah di hatinya.

Dia melangkah masuk ke dalam ruang utama masjid tepat saat jamaah sedang merapatkan barisan.

Baskara berdiri di barisan paling belakang, terselip di antara orang-orang yang mungkin tak punya beban perusahaan, tapi punya ketenangan yang selama ini tak pernah ia dapat.

Imam mulai bertakbir. Baskara mengikuti gerakan itu dengan tubuh gemetar. Sudah lama sekali dia tidak berdiri di hadapan Sang Pencipta. Saat bacaan sholat yang merdu bergema di ruangan itu, pertahanannya mulai goyah.

Puncaknya adalah saat sujud pertama.

Saat dahinya menyentuh sajadah yang kasar dan menghirup aroma harum karpet tua, pertahanan yang Baskara bangun selama sepuluh tahun runtuh seketika.

Air matanya tumpah membasahi sajadah. Dalam posisi paling rendah itu, dia merasa beban di pundaknya seolah ditarik paksa oleh bumi.

Setelah salam, jamaah satu per satu mulai pulang, meninggalkan masjid yang perlahan kembali sunyi.

Namun, Baskara tetap di posisinya. Dia tidak sanggup berdiri. Dia duduk bersimpuh, membiarkan masjid itu benar-benar sepi sampai hanya ada dia dan bayangan lampu temaram.

"Tuhan..." bisiknya. Suaranya pecah.

Dia mulai bicara. Awalnya pelan, lalu menjadi isakan yang tak tertahankan. Dia mencurahkan semuanya.

Tentang ayahnya, tentang ijazah SMP-nya yang berdebu, tentang pundaknya yang terasa mau patah, tentang rasa irinya melihat adik-adiknya sekolah tinggi sementara dia harus bertarung dengan kerasnya jalanan.

"Aku capek, Ya Allah... Aku pengen berhenti sebentar saja. Aku nggak sekuat yang mereka lihat. Aku takut... aku cuma manusia, tapi kenapa semua orang perlakukan aku kayak mesin?"

Baskara menangis sejadi-jadinya. Dia menangis seperti anak kecil yang kehilangan arah. Dia bersujud kembali, kali ini sangat lama.

Dalam sujud itu, dia merasa seolah-olah ada sebuah tangan hangat yang memeluk bahunya.

Bukan pelukan fisik, tapi sebuah kehangatan yang merambat masuk ke rongga dadanya, memenuhi bagian-bagian yang selama ini kosong dan kering.

Tiba-tiba, sebuah cahaya batin menyinari pikirannya. Dia teringat wajah ibunya yang kini bisa tidur nyenyak tanpa takut kelaparan. Dia teringat wajah adik-adiknya yang punya masa depan cerah.

Dia menyadari satu hal: Tuhan tidak memberinya beban karena Tuhan membencinya. Tuhan memberinya beban karena Tuhan memilihnya menjadi "tangan kanan-Nya" untuk menjaga keluarga itu.

"Maafkan aku... maafkan aku karena sudah marah," isaknya di atas sajadah.

***

Baskara keluar dari masjid saat hujan sudah reda. Langit malam itu tampak lebih bersih, dan bintang-bintang mulai mengintip di balik awan.

Bebannya belum hilang. Besok dia masih harus menghadapi rapat direksi, masih harus membayar tagihan rumah sakit ibu, dan masih harus menjadi tulang punggung. Namun, rasanya berbeda.

Dia tidak lagi merasa sendiri. Dia menyadari bahwa selama ini dia sukses bukan karena kekuatannya sendiri, tapi karena ada "Pelukan Tuhan" yang menjaganya tetap tegak saat dia hampir tumbang.

Dia menyadari bahwa setiap kesulitan yang dia lalui adalah cara Tuhan menempanya menjadi emas.

Kini, setiap kali Baskara merasa lelah, dia tidak lagi menepi di pinggir jalan tol. Dia akan mencari masjid terdekat, duduk diam, dan membiarkan Tuhan "memeluknya" kembali.

Dia belajar bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak boleh menangis, tapi tahu kepada siapa harus mengadu.

Baskara tetap anak laki-laki pertama yang hebat. Dia tetap direktur yang sukses. Namun sekarang, dia adalah manusia yang paling merdeka. Karena baginya, susah dan senang hanyalah dua sisi mata uang yang sama, dan selama Tuhan bersamanya, tidak ada beban yang terlalu berat untuk dipikul.

Dia menghidupkan mesin mobilnya, memutar lagu yang tenang, dan pulang dengan senyum yang kali ini benar-benar sampai ke hatinya.

✨ Lihat sesuatu yang menarik di bawah ini

Komentar