Mantan Terindah

Mantan Terindah

Karya Kolaborasi

Nama itu masih tersimpan rapi di daftar kontak ponselku, meski tidak pernah lagi kusentuh. Gibran. Singkat, padat, dan sempat menjadi pusat semestaku selama empat tahun.

Jika kau bertanya pada teman-temanku, mereka akan menyebutnya sebagai "Mantan Terindah".

Namun bagiku, sebutan itu terasa seperti pedang bermata dua: indah untuk diingat, tapi terlalu tajam untuk dipeluk kembali.

Menyimpan namanya di ponselku selama dua tahun terakhir bukan karena aku berharap dia akan menelepon. Itu hanyalah sebuah bentuk ketidakmampuan, atau mungkin ketakutan untuk benar-benar mengakui bahwa garis hidup kami sudah tak lagi bersinggungan.

Sore itu, Jakarta sedang tidak ramah. Hujan turun seolah-olah langit sedang menumpahkan seluruh beban rahasia yang ia simpan sendirian.

Aku berteduh di sebuah kedai kopi tua di kawasan Cikini—tempat yang sebenarnya paling ingin kuhindari jika aku sedang waras.

Kedai ini adalah saksi bisu di mana aku dan Gibran pernah merancang masa depan di atas selembar serbet kertas yang penuh noda cokelat, membahas denah rumah impian yang kini entah di mana rimbanya.

Aku duduk di sudut, kursi rotannya berdecit setiap kali aku bergerak, seolah ikut memprotes kehadiranku di sini.

Aku memesan latte tanpa gula, persis seperti seleranya dulu. Kebiasaan yang tanpa sadar aku adopsi dan tak pernah bisa kubuang, meski lidahku sebenarnya merindukan sesuatu yang manis.

Saat uap kopi mulai menyapa wajahku, pintu kedai berdenting. Seorang pria masuk dengan jaket yang basah kuyup, membawa aroma hujan yang dingin ke dalam ruangan yang pengap oleh aroma kopi.

Dia melepas topinya, mengibas airnya dengan gerakan yang sangat kukenal, dan saat itulah jantungku seakan melompat dari tempatnya.

Itu dia. Gibran.

Dua tahun tidak bertemu tidak membuatku pangling sedikit pun. Bahunya tetap tegap, meski guratan lelah di matanya tampak lebih nyata, mungkin karena beban pekerjaan atau perjalanan jauh.

Dia memesan minuman di bar, membalikkan badan, dan mata kami bertemu.

Ada jeda lima detik di mana dunia seolah kehilangan suaranya. Hanya ada bunyi hujan yang menghantam atap seng dan detak jantungku yang mendadak tidak beraturan.

"Rana?" sapanya ragu. Suaranya masih sama. Tenang, berat, dan selalu punya cara untuk membuatku merasa seperti pulang.

Aku memaksakan sebuah senyum, tanganku mengepal di bawah meja agar getarannya tidak terlihat. "Hai, Gib. Apa kabar?"

Dia duduk di depanku setelah aku mengangguk kecil. Kursi di depanku yang tadinya kosong kini terasa penuh oleh energinya.

Kami mulai bicara, awalnya canggung seperti dua orang asing yang terjebak di halte bus yang sama. Namun, pelan-pelan, kenyamanan lama itu merayap kembali, seperti hantu yang tidak mau pergi.

"Kamu masih suka latte tanpa gula?" tanyanya, menunjuk cangkirku dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Kebiasaan buruk sulit hilang, kan?" jawabku retoris, mencoba terdengar santai padahal tenggorokanku terasa kering.

Kami mulai membicarakan hal-hal permukaan—pekerjaannya sebagai arsitek yang semakin sibuk, hobi baruku dalam berkebun di balkon apartemen yang sempit, hingga kabar teman-teman lama yang sudah mulai menikah satu per satu. Namun, di balik percakapan itu, pikiranku melayang ke masa lalu.

Gibran adalah definisi "Terindah" dalam banyak hal.

Dia adalah orang yang sengaja datang jauh-jauh mengatarkan mie instan spesial buatannya hanya karena aku lapar ditengah malam.

Dia adalah orang yang membawakanku sebungkus martabak kacang saat aku menangis karena gagal sidang skripsi, membiarkan pundaknya basah oleh air mataku tanpa banyak bertanya.

Bersamanya, cinta terasa begitu indah. Tidak ada drama besar, tidak ada perselingkuhan, tidak ada racun.

Lalu, kenapa kami berakhir?

Jawabannya sederhana namun menyakitkan: Perbedaan arah.

Kami seperti dua garis lurus yang sempat bersilangan di satu titik indah, namun harus terus melanjut ke arah yang berlawanan.

Gibran ingin menetap dan membangun mimpi di kota kelahirannya di pelosok Kalimantan, membangun jembatan untuk orang-orang yang membutuhkan.

Sementara aku? Aku adalah budak ambisi yang merasa hidup hanya jika berada di tengah hiruk pikuk ibu kota, mengejar karier di gedung-gedung pencakar langit yang dingin.

"Banyak orang bilang kamu mantan terindahku, Gib," kataku tiba-tiba, memutus penjelasan panjangnya tentang desain proyek jembatan barunya.

Aku lelah berpura-pura membicarakan beton dan baja saat ada sesuatu yang lebih besar mengganjal di hatiku.

Gibran terhenti. Dia tertawa kecil, suara khasnya yang serak masih terasa terlalu akrab. "Oh ya? Terindah karena apa? Karena aku nggak pernah selingkuh, atau karena aku jago bikin mie instan tengah malam buat kamu?"

"Terindah karena kita nggak punya alasan untuk saling membenci," balasku jujur, menatap langsung ke matanya. "Dan itu yang bikin proses move on jadi jauh lebih susah, Gib. Kadang aku berharap kamu selingkuh atau jahat, supaya aku punya alasan buat benci dan lupain kamu."

Memang benar. Jauh lebih mudah melupakan mantan yang berkhianat. Kamu punya alasan untuk membuang barang-barangnya, untuk menghapus fotonya dengan amarah.

Tapi bagaimana cara melupakan seseorang yang hanya memberimu kenangan manis? Seseorang yang satu-satunya kesalahannya adalah dia tidak bisa menjadi orang yang sama denganku di masa depan?

Gibran terdiam sebentar.

"Kamu tahu, Na? Aku juga sama. Aku juga ngerasa gitu. Setiap kali aku mencoba mengenal orang baru di sana, aku selalu mencari 'Rana' di dalam diri mereka. Cara kamu memutar mata saat kesal, cara kamu tertawa, bahkan cara kamu berdebat soal hal-hal sepele. Aku selalu mencari itu... dan aku selalu gagal."

Kata-katanya seperti sembilu, mengiris perlahan sisa-sisa pertahananku. "Itu nggak adil buat orang baru itu, Gib. Dan nggak adil buat kamu juga."

"Aku tahu. Makanya aku berhenti mencari," bisiknya pelan. "Aku memutuskan untuk menyimpanmu di kotak tersendiri dalam ingatanku. Kotak yang nggak akan pernah kubuka lagi, tapi selalu ada di sana. Kotak berlabel 'Sempurna tapi Tak Bisa Dimiliki'."

Percakapan kami berlanjut selama hampir dua jam, tapi kali ini rasanya berbeda.

Bukan lagi tentang rindu yang ingin bertemu, tapi tentang dua orang yang sedang melakukan upacara pemakaman bagi perasaan mereka sendiri.

Hujan mulai mereda, menyisakan aroma tanah yang basah.

Aku menyadari sesuatu saat menatap wajahnya di bawah temaram lampu kedai. Rasa sakit yang dulu terasa seperti sesak napas saat dia pergi, kini sudah berganti menjadi rasa hangat yang melankolis.

Aku tidak lagi ingin menariknya kembali ke Jakarta. Aku tidak lagi ingin mengubah mimpinya.

"Na," panggilnya saat kami bersiap pergi, suaranya mendadak berubah sedikit lebih serius, seolah dia sedang memegang beban yang berat. "Sebenarnya, ada satu hal yang mau aku omongin. Alasan kenapa aku di Jakarta minggu ini... aku udah tunangan bulan lalu."

Duniaku tidak runtuh. Jantungku tidak berhenti berdetak. Aku justru merasakan sebuah kelegaan yang luar biasa, sebuah beban yang akhirnya terlepas dari pundakku.

Penantian tak kasat mata yang selama ini kupelihara di sudut hati yang paling gelap, akhirnya menemui titik akhirnya secara terhormat.

"Dia orang Kalimantan?" tanyaku dengan tulus.

Gibran mengangguk. "Namanya Sarah. Dia guru honorer di sana. Dia... dia nggak meledak-ledak seperti kamu, Na. Dia tenang, suka ketenangan, dan dia melihat mimpiku sebagai mimpinya juga. Sesuatu yang nggak bisa kupaksakan padamu dulu."

Aku tersenyum, kali ini benar-benar tulus tanpa ada kepahitan di sudut bibir. "Aku ikut bahagia, Gib. Sungguh. Akhirnya ada orang yang bisa nemenin kamu bangun rumah di pinggir sungai itu. Sesuatu yang memang bukan porsiku."

Gibran menatapku lama, ada binar terima kasih dan permohonan maaf yang tersirat di matanya. "Makasih, Na. Kamu tetap akan jadi mantan terindahku. Bukan karena aku masih mau sama kamu, tapi karena bersamamu, aku pernah jadi versi terbaik dari diriku sendiri."

Kami berjalan keluar dari kedai. Udara malam Jakarta setelah hujan terasa kontras—dingin di kulit, namun ada rasa hangat yang aneh menjalar di dadaku.

Di depan pintu kedai yang lampunya mulai berpijar kuning keemasan, kami berhenti. Kami saling berhadapan untuk terakhir kalinya sebagai dua orang yang pernah berbagi degup jantung yang sama.

Gibran mengulurkan tangannya. "Sampai ketemu lagi, Na. Di kehidupan yang mungkin lebih ramah sama kita."

Aku menyambut tangannya. Sebuah jabat tangan yang mantap, tanpa keraguan, tanpa sisa-sisa tarikan emosi yang biasanya membuatku ingin menahannya lebih lama.

Ini bukan jabat tangan perpisahan yang penuh air mata, melainkan sebuah segel. Segel yang menandakan bahwa tugas kami di hidup satu sama lain telah selesai.

"Hati-hati, Gib," kataku. "Salam buat Sarah. Dia beruntung dapetin kamu."

"Kamu juga, Na. Cari orang yang mimpinya sejalan sama kamu. Jangan cari aku lagi di orang lain, ya." Ucapnya sambil tersenyum, lalu berbalik pergi.

Dia berjalan menjauh, hilang di antara para pejalan kaki dan lampu-lampu jalan. Aku berdiri di sana selama beberapa menit, menghirup udara dalam-dalam.

Aku menyadari satu hal tentang istilah "Mantan Terindah". Predikat itu diberikan bukan karena kita masih mencintai orang tersebut, melainkan sebagai bentuk penghargaan atas waktu yang pernah kita habiskan bersama.

Dia disebut terindah karena dia telah membentuk kita menjadi sosok yang sekarang, yang lebih dewasa dalam memaknai kehilangan.

Aku merogoh ponselku. Membuka daftar kontak. Aku menatap nama "Gibran" untuk terakhir kalinya. Dengan jari yang tidak lagi gemetar, aku menekan tombol hapus.

Bukan karena aku benci, bukan karena aku ingin melupakan kenangannya.

Aku menghapusnya karena aku ingin memberinya ruang untuk menjadi asing kembali.

Aku menghapusnya agar aku bisa mulai menulis bab baru tanpa bayang-bayang masa lalu yang membelenggu.

Gibran akan selalu menjadi mantan terindah dalam ingatanku, tapi di kenyataanku, dia hanyalah sebuah cerita yang sudah selesai dibaca. Indah, penuh pelajaran, tapi tetap saja... sudah tamat.

Malam itu, aku pulang dengan perasaan ringan. Aku tidak lagi memutar lagu-lagu galau yang biasa kami dengar bersama. Aku menyalakan radio, mendengarkan lagu baru yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Besok, aku akan bangun sebagai Rana yang baru. Rana yang tidak lagi mencari "Gibran" di wajah-wajah pria lain. Rana yang siap bertemu dengan orang baru, yang mungkin tidak akan menjadi "Mantan Terindah", tapi akan menjadi "Masa Depan Terindah".

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa indah masa lalu yang kita miliki, tapi tentang seberapa berani kita melangkah pergi dari keindahan itu untuk menjemput kebahagiaan yang baru.

✨ Lihat sesuatu yang menarik di bawah ini

Komentar