Manis di Awal, Menyakitkan di Akhir
Manis di Awal, Menyakitkan di Akhir
Namaku Bella, seorang gadis biasa yang bekerja di sebuah toko concept store di pusat kota.
Hari-hariku biasanya diisi dengan menata rak, menyapa pelanggan, dan sesekali bercanda dengan teman-teman di gudang. Hidupku sederhana, sampai seorang pria bernama Andra datang dan mengubah segalanya.
Andra itu pelanggan setia. Dia tampan, pembawaannya tenang, dan bicaranya sangat lembut. Setiap kali dia datang, dia selalu punya alasan untuk menyapaku.
"Barang yang kamu rekomendasiin kemarin bagus, Bel. Makasih ya," katanya suatu sore sambil memberikan coklat untukku.
Aku baper? Ya jelas. Siapa yang nggak suka diperhatikan begitu?
Singkat cerita, kami mulai sering berkirim pesan, makan malam bareng, sampai akhirnya dia menembakku di sebuah kafe dengan playlist lagu romantis.
"Bel, setelah banyaknya hari yang udah kita lewatin selama ini, aku sadar kalau aku ada rasa sama kamu. Aku sayang sama kamu bel, aku cinta sama kamu. Tolong izinin aku buat selalu jagain kamu. Kamu mau kan jadi pacar aku?"
Waktu itu, kalimat "jagain kamu" terdengar seperti janji perlindungan yang indah. Aku nggak tahu kalau itu sebenarnya adalah kalimat pengumuman kepemilikan.
Tanpa ragu aku mengangguk dan berkata, “iya, aku mau jadi pacar kamu.”
Seketika, suasana kafe jadi riuh rendah. Suara tepuk tangan membahana dari meja-meja di sekitar kami.
Beberapa pengunjung bahkan bersiul dan bersorak, "Ciee! Selamat ya!" atau "Langgeng terus!"
Aku bisa merasakan wajahku memanas, merona hebat karena malu sekaligus haru.
Andra tersenyum lebar, senyum paling tulus yang pernah kulihat. Lalu dia meraih tanganku dan mengecup punggung tanganku di depan semua orang.
Rasanya seperti adegan di film romantis. Aku merasa menjadi pusat semesta, menjadi wanita paling beruntung malam itu karena mendapatkan laki-laki sesempurna Andra.
Sepanjang jalan pulang, hatiku berbunga-bunga, rasanya seperti ada jutaan kupu-kupu yang sedang menari di perutku.
Dia merangkulku erat, sesekali merapikan rambutku yang tertiup angin dengan gerakan yang sangat lembut.
Perhatiannya, cara dia menatapku, semuanya membuatku merasa sangat berharga
Bulan pertama sejak kami jadian rasanya seperti surga.
Dia selalu menjemputku, memastikan aku sudah makan atau belum, bahkan tahu kapan aku lelah hanya dari nada suaraku.
Tapi lama kelamaan, "perlindungan" itu mulai berubah warna.
"Bel, kok tadi nggak angkat telepon aku?" tanyanya suatu malam saat kami sleep call.
"Tadi lagi rame pelanggan, Ndra. Hp-ku kan di loker," jawabku jujur.
"Aku nggak suka ya. Masa kamu lebih mentingin orang asing dibanding aku? Aku khawatir tahu, nanti kalau kamu kenapa-kenapa gimana? Pokoknya besok-besok bawa hp di saku aja, kalau aku telepon langsung angkat, ok." ucapnya tak terima bantahan.
Awalnya aku pikir, Oh, dia cuma terlalu khawatir. Aku pun menuruti. Tapi permintaannya makin lama makin nggak masuk akal.
Dia mulai risih kalau aku pulang bareng temen kantor, bahkan dia mulai protes soal caraku berpakaian. Pokoknya dia mulai mengatur-ngatur hidupku.
Sampai suatu hari itu toko lagi super sibuk karena ada promo besar-besaran. Aku, Rian, dan Mita lagi seru-seruan di meja kasir sambil bungkus barang.
Rian emang orangnya lucu, dia bikin lelucon soal pembeli yang aneh tadi, dan kami semua tertawa.
Tiba-tiba, aku melihat Andra berdiri di luar kaca toko. Wajahnya datar, matanya dingin menatapku. Seketika jantungku mencelos.
Begitu jam pulang, dia sudah menungguku di motornya dengan wajah gelap.
"Pulang," katanya singkat.
Di perjalanan, dia nggak ngomong sepatah kata pun. Begitu sampai di depan gang rumahku, dia meledak.
"Kamu tadi ngapain sama si laki-laki kurus itu?"
"Maksud kamu Rian? Dia temen kerja aku, Ndra. Kita cuma lagi kerja, beneran."
"Kerja atau kegatelan? Aku lihat kamu ketawa lebar banget, sampe gigi kamu kelihatan semua. Kamu tahu nggak cowok kayak dia itu mandang kamu gimana? Dia itu pasti pengen nidurin kamu, Bel! Dan kamu malah ngasih panggung!"
"Astaga, Ndra! Pikiran kamu jauh banget. Dia itu udah punya tunangan!" ucapku dengan mata yang refleks melotot karena syok dengan perkataannya itu.
"Aku nggak peduli! Pokoknya mulai besok, aku nggak mau lihat kamu interaksi sama dia lagi. Kalau bisa, kamu resign aja. Aku nggak mau pacar aku jadi konsumsi mata laki-laki nggak jelas di toko itu. Aku bisa kasih kamu uang, Bel. Kamu di rumah aja, biar aku yang kerja buat kita."
Aku menatapnya tak percaya. "Resign? Terus aku jadi apa? Pajangan kamu? Aku kerja di sini udah dua tahun, Ndra. Aku suka kerjaanku."
"Oh, jadi kamu lebih pilih kerjaan sampah itu dibanding harga diri aku sebagai pacar kamu? Kamu egois ya, Bel. Padahal aku begini karena aku cinta banget sama kamu. Aku nggak mau kehilangan kamu!"
Dia mulai menangis, memohon, lalu sedetik kemudian membanting helmnya ke aspal karena frustasi. Emosinya benar-benar tak terkendali.
Untuk pertama kalinya aku merasa ketakutan pada pria yang selalu ku puja-puja selama ini.
Akhirnya aku mencoba untuk bertahan seminggu lagi, tapi rasanya seperti bernapas di dalam air. Sesak.
Andra mulai mengintai toko, dia sering tiba-tiba muncul hanya untuk memastikan dan melihatku sedang bicara dengan siapa. Dan itu membuatku benar-benar frustrasi.
Sejak saat itu, aku mulai sadar hubungan ini tidak sehat. dan aku mulai mengumpulkan nyali untuk mengambil keputusan tepat sebelum semuanya terlambat.
"Ndra, aku rasa aku udah gak bisa terusin hubungan ini lagi. Aku mau Putus, dan mulai saat ini kita selesai."
Seketika wajah manisnya langsung hilang. Dia menatapku dengan tatapan hina.
"Putus? Hah! Dasar cewek nggak tahu diuntung! Kamu pikir ada yang mau sama cewek kayak kamu selain aku? Kamu tuh cuma penjaga toko biasa, Bel! Tanpa aku, kamu itu nggak ada apa-apanya!"
Dia terus menghinaku, membawa-bawa latar belakang keluargaku, bahkan menyebutku cewek murahan karena lebih memilih "bergaul dengan cowok-cowok toko."
Aku hanya bisa diam, air mataku mengalir deras.
Bukan karena aku sedih, tapi karena aku merasa bodoh sudah terjebak selama ini.
Aku berjalan pergi, meninggalkan dia yang masih teriak-teriak di pinggir jalan. Malam itu, aku pulang ke rumah dan menghapus semua kontaknya. Aku memblokir semua aksesnya.
Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, aku tidur tanpa harus sleep call sampai pagi.
Perlahan aku mulai menata hidupku dan rutinitas harianku. Sejak berpisah dengannya hidupku jadi lebih baik.
Aku kembali jadi “Bella” si gadis biasa yang bahagia bukan karena seorang pria tapi karena aku kembali mendapat kebebasanku untuk menentukan cara hidupku sendiri.
Cinta itu bukan tentang seberapa besar kita menguasai, tapi seberapa besar kita menghargai.
Aku harap siapa pun yang membaca ini sadar bahwa tanda-tanda awal seperti "aku begini karena sayang" atau "aku cuma mau jagain kamu" sering kali menjadi pembungkus untuk racun yang lebih mematikan.
Jangan pernah mengorbankan jati diri, pekerjaan, atau kebahagiaanmu demi memuaskan rasa aman seseorang yang belum tentu menjadi masa depanmu.
Dunia ini terlalu luas untuk kamu habiskan di dalam sangkar, meski sangkar itu terbuat dari emas sekalipun. Ingatlah:
"Cinta yang tulus itu akan setia menunggu sampai waktu yang menentu untuk berhak merasa posesif dan cemburu, bukannya malah menjadi belenggu."
-Bella
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar 💛
Kalau gak mau ribet, kamu bisa pilih Anonim, lalu tuliskan namamu di akhir komentar (misalnya: by Ayu).
Jejak kecilmu berarti banyak untuk ku