Di Bawah Pelangi

Di Bawah Pelangi

Oleh: Ziandra Dirgantara

“Bagiku, kamu adalah pelangi. Indah, tinggi, dan dicintai semua orang.

Sementara aku? Aku hanyalah tanah basah yang diguyur hujan. Berada di bawah, gelap, dan sering kali terinjak tanpa pernah ada yang peduli.”

Terkadang dunia memang tidak adil dalam cara kita memandang sesuatu.

Manusia selalu menengadah ke atas, mengagumi warna-warni yang menghias langit, tanpa pernah sadar bahwa tanah yang mereka pijaklah yang menopang segalanya.

Begitulah cara Gani memposisikan dirinya di hidup Sari. Sebagai pijakan yang tak terlihat, sebagai sandaran yang tak pernah dianggap ada.

Gani sangat tahu diri. Kesadaran itu tumbuh sejak mereka duduk di bangku SMA. Ia bukan tipe pria yang akan memberikan kejutan mewah atau membelikan bunga mahal.

Perannya jauh lebih sederhana namun melelahkan: ia adalah orang yang bersedia menunggu di gerbang sekolah hingga larut malam hanya untuk memastikan Sari mendapatkan ojek untuk pulang saat gadis itu selesai latihan teater.

Ia tidak pernah menyapa, hanya memastikan dari jauh bahwa Sari sudah aman, lalu ia sendiri akan berjalan kaki sejauh tiga kilometer menuju rumahnya demi menghemat uang ongkos.

Baginya, melihat Sari pulang dengan selamat adalah upah yang lebih dari cukup untuk kakinya yang pegal.

Interaksi mereka tumbuh dalam percakapan-percakapan kecil di kantin atau saat Gani membantu membawakan tumpukan buku tugas Sari ke ruang guru.

Gani selalu menjaga jarak satu langkah di belakang, membiarkan Sari bersinar dalam dunianya yang ceria, sementara ia cukup menjadi pendengar yang baik untuk setiap keluh kesah Sari tentang nilai ujian atau pertengkaran kecil dengan orang tuanya.

Namun, kedekatan itu memiliki batasan yang jelas. Gani tahu, ia hanyalah tempat singgah, bukan tujuan.

Hal itu terbukti ketika Sari mulai menjalin hubungan dengan pria-pria yang menurut Gani "selevel" dengan cahaya pelangi itu. Gani tetap di sana, di pinggiran hidup Sari, menyaksikan gadis itu jatuh cinta, tertawa, hingga akhirnya... hancur.

Sore itu, mendung menggantung rendah di atas taman kota. Gani baru saja selesai bekerja di gudang semen ketika ia melihat sosok yang sangat ia kenali duduk di bangku taman yang mulai kusam.

Bahu gadis itu bergetar. Air mata menghapus riasan tipis di wajah Sari. Pria yang selama ini ia banggakan, pria yang seharusnya melamarnya hari itu, justru pergi dengan perempuan lain tanpa penjelasan yang berarti.

Sari merasa seperti dibuang setelah seluruh hatinya ia serahkan.

Gani tidak langsung mendekat. Ia berdiri sejenak, menatap telapak tangannya yang kasar dan penuh noda semen.

Ia mengusapnya ke celana kainnya yang lusuh, berusaha membersihkan sisa-sisa debu sebelum akhirnya melangkah maju. Ia duduk di ujung bangku, menjaga jarak yang sopan agar tidak lancang.

Ia menyodorkan sapu tangan miliknya. Sapu tangan itu tidak bermerek, tapi harum sabun cuci yang bersih.

“Kenapa kamu selalu ada di sini setiap aku hancur, Gan?” tanya Sari di sela isaknya. Ia menoleh, menatap Gani dengan mata yang sembab.

Gani hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan ribuan rahasia yang tak akan pernah ia ucapkan. “Mungkin karena tugas saya memang cuma buat memastikan kalau taman ini nggak terlalu sepi buat kamu,” jawab Gani sederhana. Suaranya rendah, menenangkan, seperti rintik hujan yang jatuh di atas tanah yang kering.

Sari tidak tahu bahwa demi bisa hadir di sana tepat waktu saat mendengar kabar Sari sedang sedih, Gani harus merelakan upah harian dipotong karena pulang lebih awal.

Sari juga tidak tahu bahwa jaket yang kini Gani sampirkan ke bahunya adalah satu-satunya barang paling layak yang Gani punya.

Tahun-tahun berlalu dengan cepat seperti sapuan angin yang tak sempat tertangkap tangan.

Sari akhirnya menemukan kebahagiaannya. Seorang pria mapan, pilihan keluarganya, yang tampak benar-benar tulus mencintainya.

Gani ada di sana, di hari pernikahan itu. Ia berdiri jauh di sudut gereja, bersembunyi di balik tiang besar yang kokoh.

Ia sengaja memakai kemeja terbaiknya yang ia beli dari hasil menyisihkan uang makan selama tiga bulan hanya agar ia tidak terlihat terlalu "kotor" di hari bahagia Sari.

Ia melihat Sari tersenyum di pelaminan. Senyum yang selalu Gani doakan dalam setiap sujudnya yang panjang.

“Sudah cukup, Gan. Dia sudah aman,” bisik Gani pada dirinya sendiri. Dadanya terasa sesak, namun ada kelegaan yang luar biasa.

Ia merasa tugasnya sebagai tanah yang dipijak sudah selesai. Pelangi itu kini sudah menemukan langit yang lebih cerah untuk bersinar.

Namun, hidup punya cara yang pahit untuk menguji ketulusan.

Beberapa bulan setelah pernikahan itu, kabar duka datang seperti petir di siang bolong.

Suami Sari terlibat kecelakaan hebat. Kondisinya kritis, membutuhkan biaya operasi yang sangat besar dan donor jaringan yang sulit didapat.

Di saat yang sama, bisnis keluarga Sari hancur karena investasi yang gagal.

Sari terduduk di koridor rumah sakit yang dingin, persis seperti posisinya di taman kota beberapa tahun lalu. Hancur dan sendirian.

Gani datang lagi. Namun kali ini, ia tidak membawa sapu tangan. Ia membawa seluruh tabungan hidupnya yang ia simpan di dalam kaleng biskuit tua—uang yang seharusnya ia gunakan untuk operasi kakinya sendiri yang mulai pincang akibat bertahun-tahun menjadi kuli panggul.

"Pakai ini, Sar. Suamimu butuh pengobatan segera," ucap Gani, meletakkan kaleng itu di pangkuan Sari.

Sari menatap uang yang berantakan itu—lembaran ribuan yang lecek, penuh keringat, dan perjuangan. "Gan, ini uang buat pengobatan kakimu, kan? Aku nggak bisa..."

"Kaki saya masih bisa jalan, Sar. Tapi kalau suamimu nggak selamat, kamu nggak akan bisa lari lagi. Pelangi itu nggak boleh jatuh ke tanah," potong Gani dengan senyum paling tulus.

Singkat cerita, suami Sari selamat. Kehidupan mereka perlahan membaik. Sari berkali-kali mencoba mencari Gani untuk mengembalikan uang itu, bahkan ingin mengajaknya tinggal bersama mereka agar bisa dirawat.

Suatu hari, Sari berhasil menemukan Gani di sebuah dermaga kecil. Pria itu sedang duduk melihat matahari terbenam, kakinya tampak semakin sulit untuk melangkah.

"Gani! Ikut aku pulang yaa. Aku dan suamiku mau jaga kamu," seru Sari dengan mata berkaca-kaca.

Gani menoleh, tersenyum tenang, tapi ia menggeleng. Ia tidak mau masuk ke dalam lingkaran cahaya Sari.

Ia tahu, jika ia ikut, ia hanya akan menjadi pengingat akan masa sulit Sari. Ia akan menjadi "noda" di tengah indahnya hidup baru Sari.

"Sari... tanah itu tugasnya cuma satu: jadi tempat pijakan biar pelangi kelihatan indah. Kalau tanahnya naik ke atas, itu namanya bukan pelangi lagi, tapi badai debu."

Gani bangkit dengan susah payah, lalu berjalan menjauh tanpa menoleh lagi.

Sari berdiri terpaku di dermaga yang mulai menggelap. Ia menatap punggung Gani yang menjauh, langkahnya terpincang-pincang, punggungnya sedikit membungkuk—beban hidup seolah benar-benar telah mematahkan pria itu.

Sari ingin mengejar, ingin meneriakkan nama Gani sekali lagi, tapi tenggorokannya seperti tersumbat pasir.

Ia baru sadar, selama ini ia hanya memungut cahaya dari Gani tanpa pernah bertanya berapa banyak kegelapan yang harus pria itu telan sendirian.

Sari melihat kaleng biskuit tua di tangannya. Bau karat dan keringat. Uang di dalamnya bukan sekadar kertas, itu adalah jam tidur yang hilang, tulang yang retak, dan rasa sakit yang disembunyikan Gani di balik senyum "tahu dirinya".

Gani tidak hanya memberikan uang; dia memberikan satu-satunya kesempatan untuk dirinya sendiri agar bisa sembuh, hanya supaya suami Sari bisa kembali bernapas.

Pria itu memilih tetap pincang seumur hidup agar Sari tidak perlu menangis.

Angin laut yang dingin menusuk tulang, tapi tak sedingin kekosongan yang tiba-tiba menyeruak di dada Sari. Ia menatap langit, mencari pelangi yang selalu ia banggakan, namun yang ada hanyalah kelabu yang pekat.

Sari akhirnya mengerti hal paling pahit dari cinta seorang Gani: Pria itu tidak pernah ingin menjadi pahlawan di mata Sari.

Ia hanya ingin menjadi tanah—tempat yang dipijak, yang kotor, yang tidak akan pernah dilihat oleh orang yang melintas di atasnya.

Gani sengaja menghapus jejaknya sendiri, membuang dirinya dari narasi hidup Sari, agar Sari bisa bahagia tanpa perlu merasa terbebani oleh rasa kasihan.

Cinta Gani adalah sebuah hukuman bagi Sari; sebuah pengabdian yang begitu sunyi hingga untuk sekadar mengucap "terima kasih" pun, Sari sudah tidak punya alamat untuk dituju.

Di penghujung jalan itu, Gani benar-benar menghilang di balik tikungan pelabuhan.

Dan untuk pertama kalinya, Sari merasa bahwa kebahagiaan yang ia miliki sekarang—suami yang sembuh, rumah yang utuh—terasa sangat berat.

Karena ia tahu, setiap tawa yang akan ia lalui nanti, dibayar oleh kesunyian seorang pria yang memilih untuk dilupakan.

✨ Lihat sesuatu yang menarik di bawah ini

Komentar

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar 💛
Kalau gak mau ribet, kamu bisa pilih Anonim, lalu tuliskan namamu di akhir komentar (misalnya: by Ayu).

Jejak kecilmu berarti banyak untuk ku