Badra

Badra

Oleh: Neng Ayu Tanjung

Di bawah lampu jalanan yang remang-remang dan kepulan asap knalpot Metromini, sosok itu berdiri tegak.

Jaket jeans belel tanpa lengan yang dipenuhi emblem band punk, celana jeans robek di lutut, dan deretan tindik di telinga kirinya menjadi seragam kebesarannya. Namanya Badra, tapi orang-orang di pasar mengenalnya dengan sebutan "Si Belati".

Badra adalah penguasa trotoar di sisi timur pasar. Tugasnya sederhana namun dibenci banyak orang: memungut uang keamanan dari pedagang kaki lima dan sopir angkot.

Wajahnya yang garang, dihiasi bekas luka sayatan di pipi kanan, sudah cukup untuk membuat siapa pun mengeluarkan uang tanpa banyak tanya.

Namun, di balik garangnya wajah "Si Belati", ada sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat di balik tulang rusuknya yang menonjol. Sebuah rahasia tentang rasa malu yang tak bertepi kepada Sang Pencipta.

***

Sore itu, suasana pasar lebih riuh dari biasanya. Orang-orang sibuk membeli stok sembako, kurma, dan sirup. Bau bumbu dapur menyeruak di antara aroma keringat manusia. Badra duduk di atas bak terbuka sebuah pick-up, menghisap rokok kreteknya dalam-diam.

Matanya tertuju pada sebuah spanduk besar yang baru saja dipasang di depan masjid pasar: "Ahlan wa Sahlan Ya Ramadhan. Mari Sucikan Hati di Bulan yang Fitri."

Badra tersenyum kecut. Hati yang fitri? pikirnya. Hatinya mungkin sudah sehitam jelaga knalpot. Dia tidak tahu kapan terakhir kali dia bersujud. Dia tumbuh besar di kolong jembatan, belajar mencopet sebelum belajar membaca alif-ba-ta.

Baginya, hidup adalah tentang bertahan hidup, bukan tentang aturan halal dan haram yang sering diteriakkan lewat pelantang suara.

Namun, entah kenapa, setiap kali bulan Syaban akan berakhir, ada desiran aneh di dadanya.

Ada rasa rindu yang menyakitkan. Dia merindukan suasana Ramadhan, merindukan bunyi tadarus malam hari yang menenangkan, meski dia sendiri tak paham artinya. Dia merindukan "kehadiran" Tuhan yang seolah-olah terasa lebih dekat di bulan itu, meskipun dia merasa Tuhan mungkin enggan melihat pendosa sepertinya.

***

"Bang Badra, ini uang buat minggu depan," ujar Pak De, seorang penjual bakso tua, sambil menyodorkan beberapa lembar uang lecek.

Badra menatap tangan renta itu. Dia tahu Pak De sedang sepi pembeli karena harga daging naik. "Simpen aja, De. Buat beli sirup anak-anak lo di rumah buat buka puasa besok. Pajak libur sampai Lebaran," kata Badra datar, suaranya parau tapi tegas.

Pak De tertegun. "Tapi Bang, nanti Bos Gento marah kalau Bang Badra nggak setor?"

Badra membuang puntung rokoknya. "Urusan gue sama Gento, bukan urusan lo. Dah, cabut."

Itulah Badra. Dia memungut pajak, tapi dia tahu siapa yang punya dan siapa yang tidak. Dia keras karena jalanan menuntutnya begitu, tapi dia tidak pernah iri melihat orang kaya, dan tidak pernah sombong dengan posisinya sebagai preman pasar.

Di dalam kepalanya, dia selalu merasa dirinya adalah manusia yang paling rendah, ahli maksiat yang hanya menunggu waktu untuk diadili.

Dia ingin bertaubat. Sungguh. Berkali-kali dia berdiri di depan pintu masjid, mencium aroma karpet dan kayu gaharu dari dalam, tapi langkahnya selalu terhenti.

Dia melihat pakaiannya yang kotor, tato tengkorak di lengannya, dan tangannya yang sering digunakan untuk memukul.

Gue nggak pantes masuk ke sana, bisiknya pada diri sendiri.

***

Malam pertama Ramadhan tiba. Isya telah lewat, dan suara tarawih mulai mengalun merdu dari masjid pasar. Badra duduk di emperan toko yang sudah tutup, sendirian. Di tangannya ada sebuah bungkusan kecil berisi nasi kuning dan segelas air mineral.

Dia mematikan rokoknya saat mendengar imam memulai bacaan Al-Fatihah. Meski dia berada di luar, di antara tumpukan kardus kosong, Badra merasa seolah-olah dia sedang berada di barisan belakang jamaah.

"Ahlan wa sahlan, ya Ramadhan..." bisiknya pelan. Air matanya tiba-tiba menitik, jatuh ke atas telapak tangannya yang kasar.

Dia tidak tahu cara sholat yang benar. Dia hanya ingat gerakan-gerakan yang dulu pernah dia lihat sekilas saat masih kecil sebelum ibunya meninggal. Di balik kegelapan emperan toko, Badra perlahan berlutut. Dia bersujud di atas aspal yang keras, kepalanya tertunduk sangat rendah.

"Tuhan... gue kangen," isaknya lirih. "Gue tahu gue kotor. Gue tahu gue pendosa. Gue nggak tahu cara taubat yang bener. Tapi gue seneng kalau kau datang lagi bawa bulan ini. Izinin gue ngerasa tenang dikit aja, Tuhan. Biarin gue ngerasain Ramadhan kali ini meskipun dari pinggir jalan."

Malam itu, di bawah langit Jakarta yang tanpa bintang, seorang preman bertato menangis sejadi-jadinya. Bukan karena takut pada polisi atau musuh di pasar, tapi karena rasa cintanya yang besar pada Tuhan yang selama ini dia jauhi.

***

Selama bulan puasa, Badra berubah. Dia tetap ada di pasar, tetap menjaga wilayahnya agar pedagang kecil tidak diganggu preman liar dari wilayah lain, tapi dia tidak lagi menarik uang keamanan.

Dia bekerja serabutan, memanggul sayuran atau membantu parkir, hanya agar bisa belajar mencoba mendapatkan uang halal untuk berbuka.

Rekan-rekan premannya menertawakannya. "Kenapa lo, Belati? Jadi alim gara-gara bulan puasa? Inget, tato lo nggak bakal ilang cuma pake sarung!"

Badra hanya tersenyum tipis. Dia tidak marah. Baginya, hinaan mereka adalah benar. Dia memang kotor. Dia tidak merasa lebih baik dari siapa pun. Dia justru merasa paling hina di antara semua manusia yang berpuasa.

Setiap sore menjelang berbuka, Badra punya rutinitas baru. Dia membeli beberapa bungkus takjil dengan uang hasil parkirnya, lalu membagikannya secara diam-diam kepada anak-anak jalanan di bawah jembatan.

Dia tidak ingin disebut dermawan. Dia hanya merasa, setidaknya tangannya yang sering berbuat dosa ini bisa memberikan sedikit kebahagiaan untuk orang lain.

***

Malam ke-27 Ramadhan, malam yang banyak orang sebut sebagai malam Lailatul Qadar.

Pasar sudah sepi. Badra berjalan menuju masjid pasar. Dia tidak masuk, dia duduk di tangga paling bawah, di luar area suci masjid.

Dia melihat jamaah di dalam sedang i'tikaf. Wajah-wajah mereka bersih, pakaian mereka putih. Badra menunduk, melihat dirinya sendiri. Rambut punk-nya sudah mulai panjang dan berantakan, jaket jinnya bau keringat.

Tiba-tiba, seorang pengurus masjid, seorang kakek tua bernama Haji salim, keluar dan melihat Badra. Badra sudah bersiap untuk diusir.

"Kenapa nggak masuk, Le? (Nak)" tanya Haji Salim lembut.

Badra kaget. "Anu, Pak Haji... saya kotor. Tato saya... perbuatan saya... saya nggak pantes."

Haji Salim duduk di samping Badra, di atas anak tangga semen yang dingin. "Le, masjid ini rumah Tuhan. Dan Tuhan nggak pernah pasang tulisan 'Hanya Untuk Orang Suci' di pintunya. Justru rumah ini paling terbuka buat mereka yang ngerasa butuh pertolongan-Nya."

"Tapi saya nggak tahu caranya, Pak Haji. Saya ini preman. Saya ahli maksiat," suara Badra bergetar.

Haji Salim menepuk bahu Badra. "Rasa bersalahmu itu, Nak... itu adalah bisikan Tuhan di hatimu. Itu tandanya Tuhan kangen sama kamu. Ramadhan ini adalah undangan buat kamu. Jangan ditolak hanya karena kamu ngerasa pakaianmu nggak bersih. Hati yang hancur karena dosa itu justru yang paling disukai Tuhan."

Badra menatap kakek itu dengan mata berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang menatapnya bukan sebagai "Si Belati" yang menakutkan, tapi sebagai manusia yang rindu pulang.

Malam itu, dengan bimbingan Haji Salim, Badra melangkahkan kakinya masuk ke dalam masjid. Dia sholat di sudut paling gelap, di balik pilar besar agar tidak terlihat orang lain. Dia bersujud dengan seluruh jiwanya.

Dia tidak meminta kekayaan. Dia tidak meminta kesuksesan. Dia hanya meminta satu hal: "Tuhan, jangan biarin gue jauh lagi dari kau setelah Ramadhan ini selesai."

Badra menyadari, Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ramadhan adalah tentang kepulangan. Bagi seorang pendosa sepertinya, Ramadhan adalah pelukan Tuhan yang mengatakan bahwa tidak ada kata terlambat untuk sebuah maaf.

Lebaran nanti, dia mungkin tetap akan jadi anak jalanan. Dia mungkin tetap akan punya tato dan bekas luka. Tapi hatinya kini punya rumah. Dia bukan lagi "Si Belati" yang hampa. Dia adalah Badra, seorang pendosa yang telah menemukan jalan pulangnya di bawah naungan berkah Ramadhan.

✨ Lihat sesuatu yang menarik di bawah ini

Komentar