Cinta yang tak Pernah Terucap
Cinta yang tak Pernah Terucap
Bagi kebanyakan orang, mencintai adalah tentang memiliki. Namun bagiku, mencintai Ghea adalah sebuah latihan bernapas di dalam air.
Terang matahari itu ada di sana, berkilau di permukaan, membiaskan warna-warna emas yang menjanjikan kehangatan. Namun begitu aku mengulurkan tangan, yang kutemukan hanyalah dingin yang menggigit dan jarak yang tak terukur.
Ghea adalah matahari itu—indah, dekat dalam pandangan, namun mustahil untuk digenggam tanpa membuat diriku sendiri hancur terbakar atau tenggelam dalam kedalaman yang tak sanggup kuseberangi.
Dua belas tahun.
Itu bukan sekadar angka. Itu adalah ribuan sore yang kami habiskan bersama, mulai dari seragam putih-merah yang kebesaran hingga kemeja formal yang kini terasa mencekik leherku.
Dua belas tahun adalah waktu yang cukup untuk membangun sebuah katedral rasa di dalam dadaku, namun aku membiarkannya kosong tanpa jemaat, tanpa suara.
Hanya ada gema dari satu kalimat yang selalu tertahan di pangkal tenggorokan, membusuk dan berkarat karena tak pernah diizinkan menghirup udara dunia.
***
Sore itu, Jakarta sedang tidak bersahabat. Langit abu-abu menggantung rendah, dan debu jalanan terbang tertiup angin kencang.
Kami duduk di kedai bakmi langganan sejak SMA. Asap panas dari mangkuk di depan kami mengepul, menghalangi pandanganku ke wajah Ghea yang sedang sibuk mengikat rambutnya.
"Gue mau pindah ke Sydney, Lang," katanya tiba-tiba. Suaranya datar, seolah dia baru saja mengumumkan bahwa kemarau tiba lebih awal dari biasanya.
"Pindah? Kerja?" Tanyaku, tanganku yang sedang memegang sumpit membeku.
Ghea mengangguk, lalu menatapku dengan mata bulatnya yang selalu berhasil membuatku lupa cara bernapas. "Kontrak dua tahun. Promosi yang selama ini gue incar, Lang. Akhirnya tembus juga."
Aku seharusnya senang.
Aku seharusnya menjadi orang yang paling keras bertepuk tangan.
Aku adalah orang pertama yang tahu betapa kerasnya dia bekerja untuk posisi itu.
Tapi, saat itu juga, aku merasakan ada sesuatu yang retak di dadaku. Retakan kecil yang menjalar cepat.
"Hebat, Ghe. Selamat ya," jawabku, memaksakan senyum yang paling tulus yang bisa kubentuk.
"Lo... bakal kangen nggak sama temen berantem lo ini?" dia bertanya sambil bercanda, menyenggol lenganku dengan akrab.
Kangen? Kata itu terlalu sederhana, Ghea.
Aku akan merasa seperti sebuah buku yang kehilangan bab terakhirnya.
Aku akan merasa seperti pelaut yang kehilangan kompasnya di tengah badai.
Aku ingin berteriak, menariknya ke dalam pelukan, dan memohon agar ia pergi sejauh itu.
Tapi, aku adalah Langit yang pengecut.
"Pasti sepi sih, nggak ada yang hobi ngabisin pangsit gue lagi," hanya itu yang sanggup lolos dari bibirku. Sebuah candaan hambar untuk menutupi jeritan di dalam.
***
Malam harinya, aku tidak bisa tidur. Aku membuka laci meja kerjaku, mengambil sebuah kotak kayu tua yang isinya adalah kumpulan "harta karun" selama dua belas tahun.
Ada tiket bioskop pertama yang kami tonton, sebuah film horor payah yang membuat Ghea mencengkeram lenganku begitu erat sepanjang durasi.
Rasanya, aku masih bisa merasakan bekas hangat jemarinya di kulitku saat itu.
Ada juga tutup botol soda dari hari kelulusan SMA yang kami minum di pinggir lapangan sambil bermimpi tentang dunia yang luas.
Lalu, ada selembar foto polaroid yang mulai menguning di tepinya.
Kami berdua berdiri di bawah pohon beringin sekolah yang rindang.
Di dalam foto itu, kebenaran terpampang nyata: Aku sedang menatap Ghea dengan seluruh semesta di mataku, sementara Ghea... ia menatap kamera, menatap dunia, menatap mimpi-mimpinya yang membumbung tinggi melampaui kepalaku.
Begitulah kami. Aku adalah bayangan yang selalu memastikan kakinya menapak bumi, sementara ia adalah burung yang sayapnya tak pernah betah berlama-lama di dahan yang sama.
Aku ingat sekali saat kami kuliah.
Di atas motor, di tengah dinginnya udara Puncak yang menusuk tulang. Ghea menyandarkan kepalanya di punggungku, napasnya yang hangat terasa menembus jaket tipisku.
"Lang..." bisiknya, serak karena kantuk.
"Hm?"
"Makasih ya udah selalu ada."
Aku tersenyum hangat, jantungku mendadak berpacu lebih cepat daripada mesin motor ini.
Saat itu juga, aku mengumpulkan keberanianku.
Aku sudah menyusun kata 'Ghea, gue sayang sama lo lebih dari sekedar sahabat, gue cinta sama lo'.
Tapi sebelum kata pertama sempat terucap, ia melanjutkan dengan suara yang begitu tulus, yang justru menjadi belati bagiku:
"Lo bener-bener kayak abang yang nggak pernah gue punya."
Deg!
Kalimat itu seketika menjadi tembok beton yang meruntuhkan keberanianku. Aku menelan kembali kata-kataku.
Aku tersenyum di kegelapan malam, sementara hatiku perlahan-lahan belajar bagaimana caranya mati tanpa perlu berhenti berdetak.
Sampai, hari itu datang…
Hari keberangkatan Ghea Ke Sydney telah tiba.
Bandara Soekarno-Hatta pagi itu terasa sangat dingin.
Ghea berdiri di depan gerbang keberangkatan internasional, dikelilingi koper-koper besarnya. Orang tuanya sudah berpamitan lebih dulu dan menunggu di mobil.
Disana hanya tinggal kami berdua.
"Jaga diri baik-baik ya disana," kataku.
Aku merogoh saku jaketku, mengeluarkan sebuah gantungan kunci kayu berbentuk bintang kecil yang kubuat sendiri. "Ini buat lo. Biar lo nggak lupa kalau di sini selalu ada 'bintang' yang nungguin lo pulang."
Ghea menerimanya dengan mata berkaca-kaca. Dia memelukku erat. Sangat erat.
Untuk beberapa detik, aku merasa detak jantung kami beradu. Aku mencium aroma parfum vanilanya yang selalu kukenali di mana pun.
‘Ini saatnya, Lang’ Bisikku pada diriku sendiri.
‘Bilang sekarang atau lo bakal nyesel seumur hidup’
Aku membuka mulut. "Ghea..."
Ia melepaskan pelukan, menatapku dengan binar yang sulit kuartikan. "Ya, Lang? Ada yang mau lo omongin?"
Aku melihat pesawat-pesawat besar di balik kaca, siap membawa pergi separuh jiwaku.
Aku melihat masa depannya yang berkilau di Sydney, tanpa beban bernama "perasaan Langit".
"Jangan telat makan ya," ucapku akhirnya.
Lagi-lagi, si penakut di dalam diriku memenangkan pertempuran. Ghea tersenyum—sebuah senyum yang menyimpan sedikit kabut kekecewaan yang tak sempat terurai.
"Gue berangkat ya, Lang. Bye."
Ia berbalik.
Sementara aku hanya bisa berdiri mematung, menjadi tiang yang tak berguna, memperhatikan punggungnya yang perlahan menghilang ditelan kerumunan manusia.
Saat gerbang itu tertutup, aku sadar: aku baru saja membiarkan matahariku terbenam tanpa sempat mengatakan selamat malam.
***
Dua tahun pun berlalu.
Ghea sukses di Sydney.
Kami masih sering bertukar pesan, tapi frekuensinya mulai berkurang. Dia punya lingkungan baru, teman baru, dan mungkin... seseorang yang baru.
Sementara aku masih di sini, di Jakarta yang sama, di kedai bakmi yang sama.
Jurnal di depanku penuh dengan tulisan-tulisan tentangnya.
Kalimat-kalimat yang tak pernah terucap kini tumpah menjadi tinta di atas kertas.
Ghea, ada banyak jenis cinta di dunia ini. Ada cinta yang menggebu-gebu, ada cinta yang menuntut.
Tapi cintaku padamu adalah cinta yang tenang. Cinta yang lebih memilih melihatmu terbang tinggi daripada menahanmu di sampingku hanya untuk memuaskan ego.
Mungkin aku pengecut. Tapi bagiku, menjagamu sebagai sahabat adalah cara terbaik agar aku tidak pernah kehilanganmu selamanya. Karena kalau aku jujur dan kamu nggak punya rasa yang sama, aku takut dunia kita akan hancur.
Dan aku lebih milih memegang kepingan hati yang patah secara diam-diam daripada melihat persahabatan kita berantakan.
Aku menutup jurnal itu. Di luar, hujan mulai turun lagi. Aroma petrichor menyeruak masuk.
Cinta yang tak pernah terucap itu memang sakit.
Rasanya seperti membawa beban berat yang tidak terlihat oleh siapa pun. Tapi terkadang, ada keindahan di balik kerahasiaan itu.
Sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh aku dan Tuhan.
Aku menyesap kopiku yang sudah dingin. Ponselku berdenting. Sebuah pesan dari Ghea.
Ghea: "Lang, bulan depan gue mau tunangan. Lo harus dateng ke Sydney ya!"
Aku menatap layar itu lama sekali. Air mataku jatuh tanpa suara, membasahi halaman jurnal yang baru saja kutulis.
Aku menarik napas panjang, jemariku gemetar saat mengetik balasan.
"Siap, Ghe. Gue bakal dateng. Bahagia terus ya, sahabat terbaik gue."
Beberapa cinta memang ditakdirkan untuk tetap menjadi doa, bukan cerita.
Ditakdirkan untuk tetap di dalam hati, bukan di atas pelaminan.
Dan bagiku, melihatnya bahagia adalah bentuk tertinggi dari kata 'mencintai'.
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar 💛
Kalau gak mau ribet, kamu bisa pilih Anonim, lalu tuliskan namamu di akhir komentar (misalnya: by Ayu).
Jejak kecilmu berarti banyak untuk ku