Bab 5: Pilihan di Tengah Keruntuhan
Ini lebih besar dari yang ia bayangkan. Jauh lebih besar. Angka dana bantuan sosial yang dicuri, inisial 'JH' yang buram, semuanya berputar di benaknya seperti roda gigi yang baru saja menemukan pasangannya.
Ini lebih besar dari yang ia bayangkan. Jauh lebih besar. Angka dana bantuan sosial yang dicuri, inisial 'JH' yang buram, semuanya berputar di benaknya seperti roda gigi yang baru saja menemukan pasangannya.
Malam itu, tidur adalah kemewahan yang tak terjangkau. Setiap kali ia mencoba memejamkan mata, wajah Ardan yang dingin, tawa hambar Hartono di acara-acara sosialita, dan deretan angka di buku agenda itu datang menghantuinya.
Naira merasa mual, bukan karena lelah, melainkan karena kebenaran pahit yang kini mulai ia cerna.
Ketika fajar menyingsing, sinarnya yang lembut terasa ironis di tengah badai dalam dirinya.
Naira bangkit dari sofa di ruang kerjanya, tubuhnya kaku, matanya merah. Ia menyalakan televisi, kebiasaan lama yang dulu memberinya rasa aman, kini hanya mencari distraksi. Namun, dunia seolah berkonspirasi untuk mengulang luka itu.
Layar plasma berukuran besar di dinding menampilkan berita pagi. Dan di sana, terpampang jelas wajah Jenderal Hartono.
Ia mengenakan setelan jas gelap yang rapi, rambutnya tersisir sempurna, sorot matanya menampilkan kesedihan yang dipentaskan. Disampingnya, berdiri seorang juru bicara dengan wajah prihatin.
"Kami sangat menyayangkan insiden yang menimpa saudara Ardan," suara Hartono terdengar berat, penuh kepalsuan yang menusuk.
"Ini adalah kegagalan moral yang seharusnya tidak terjadi di tubuh pemerintahan. Kami turut berbelasungkawa atas keluarga yang ditinggalkan, dan tentu saja, bagi istri beliau, Nyonya Naira, yang pasti sangat terpukul."
Naira merasakan giginya bergemeletuk. Belasungkawa palsu? Di tubuh pemerintahan? Ia mengepalkan tangannya, kuku-kukunya menusuk telapak tangannya sendiri.
Hartono berbicara seolah Ardan adalah sebuah kecelakaan tunggal, sebuah anomali yang baru saja mereka singkirkan. Seolah Ardan bukan pionnya, bukan bagian dari permainannya.
"Pria ini... dia berani menipu publik lagi," bisik Naira, suaranya tercekat oleh amarah. "Dia berani bilang ini kegagalan moral? Moral macam apa yang dia punya?"
Presenter berita melanjutkan, membahas tentang komitmen pemerintah untuk memberantas korupsi dan memastikan dana bansos tidak diselewengkan lagi.
Kata-kata itu terasa seperti pisau yang mengiris, menertawakan kebodohan Naira selama ini. Ia selama ini hidup dalam ilusi, percaya pada janji-janji manis, dan kini semua itu hancur.
Naira mematikan televisi dengan remote, layarnya menjadi hitam pekat, memantulkan wajahnya yang kini penuh kemarahan dan tekad. Ia menatap pantulan itu, melihat dirinya yang dulu, seorang wanita yang dimanipulasi, seorang aset. Tapi itu tidak lagi.
"Tidak, Jenderal Hartono," gumamnya, suaranya lebih tegas dari yang pernah ia dengar. "Aku tidak akan terpukul. Aku tidak akan menjadi istri yang berduka. Kau sudah salah orang."
Sebuah pertanyaan besar muncul di benaknya, sebuah pergumulan internal yang membara. Ia bisa saja mencari keadilan untuk Ardan. Membuktikan bahwa Ardan hanyalah korban, pion yang dikorbankan.
Tapi, mengapa? Untuk apa? Ardan sendiri sudah mengatakan bahwa pernikahan mereka adalah sandiwara. Ardan sudah menganggapnya aset. Mengapa ia harus berjuang untuk pria yang menghancurkan hatinya dan merendahkan keberadaannya?
"Ardan pantas mendapatkan apa yang dia dapatkan," bisik Naira, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Kata-kata itu terasa pahit, tetapi ada kebenaran yang kejam di baliknya. Ardan tahu risiko permainannya. Ardan memilih jalan itu.
Tetapi para korban bansos? Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka hanya tahu janji bantuan, janji pemulihan, janji harapan.
Dan semua itu direnggut oleh tangan-tangan serakah seperti Hartono dan kroni-kroninya. Wajah-wajah sedih di televisi, cerita-cerita tentang penderitaan, kini bukan lagi sekadar berita, melainkan sebuah misi.
"Keadilan yang aku cari bukan untukmu, Ardan," katanya pada pantulan dirinya, seolah berbicara langsung kepada mantan suaminya.
"Ini untuk mereka. Dan untuk diriku sendiri. Untuk membuktikan bahwa aku bukan pion. Aku bukan aset."
Tekadnya kini membaja. Perasaan marah, malu, dan dikhianati yang tadinya membakar, kini berubah menjadi energi dingin yang terarah. Ia tidak lagi mencari pengampunan dari siapapun.
Ia tidak akan mengasihani diri sendiri. Yang ada hanyalah satu tujuan: memburu 'JH', Jenderal Hartono.
Ia menghabiskan sisa minggu itu dalam keheningan yang intens. Rumah mewah yang dulunya ramai dengan tawa dan obrolan kini terasa seperti benteng kesendirian.
Naira tidak keluar rumah, menghindari media yang masih sesekali berkeliaran. Ia menghabiskan hari-harinya di ruang kerjanya yang kini menjadi markas pribadinya.
Buku agenda hitam Ardan seolah menjadi kitab sucinya. Ia membongkar kembali setiap halaman, mencoba memahami setiap kode, dan setiap angka.
Naira membeli beberapa buku tentang akuntansi forensik dan pencucian uang secara online, menyamarkan pembeliannya dengan buku-buku fiksi.
Ia menonton video tutorial tentang cara melacak jejak digital dan mencari informasi publik dari sumber-sumber yang tidak konvensional. Otaknya, yang dulu hanya terbiasa dengan jadwal pesta dan menu diet, kini bekerja keras, memproses informasi rumit.
"MR, SY, DW... Siapa kalian?" gumamnya suatu malam, menunjuk inisial-inisial di buku agenda. "Pasti ada hubungannya dengan Hartono. Ada jaringan di balik ini."
Setiap malam, Naira akan menyalin ulang kode-kode itu ke buku catatannya sendiri, mencoba mencari pola. Ia menggambar peta pikiran, menghubungkan tanggal dengan angka, angka dengan inisial.
Rasanya seperti sedang memecahkan teka-teki raksasa, dan setiap kepingan yang ia temukan memberinya kepuasan yang aneh, sekaligus ketakutan yang mendalam.
Ia tahu, setiap kali ia menemukan kepingan baru, ia semakin mendekat ke sarang singa.
Satu minggu berlalu. Minggu yang terasa seperti setahun. Naira tidak lagi makan dengan teratur, tidurnya pun hanya sebentar-sebentar.
Lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas, tetapi tatapan matanya kini tajam, penuh perhitungan. Ia sudah tidak lagi merindukan kehidupan lamanya yang mewah. Kemewahan itu kini terasa kosong, hampa, dan penuh kebohongan. Yang ia inginkan hanyalah kebenaran.
Naira tahu ia tidak bisa melakukan ini sendiri. Hartono terlalu besar, jaringannya terlalu luas. Ia butuh seseorang dari dalam. Seseorang yang tahu detail-detail kecil yang tidak akan pernah tertulis di buku agenda, tetapi penting untuk memecahkan sandi.
Naira teringat pada Asep, mantan asisten keuangan Ardan. Pria paruh baya yang pendiam, selalu tampak tegang, dan memiliki akses ke semua data finansial Ardan. Ia pernah sesekali melihat Asep dan Ardan berdebat, dan Ardan selalu tampak meredam Asep. Mungkin Asep tahu sesuatu. Mungkin Asep juga merasa dikorbankan.
Ia meraih ponsel lamanya, yang sudah lama tidak ia gunakan, dan mencari nomor Asep di daftar kontak lama.
Tangannya sedikit gemetar saat menekan tombol panggil. Panggilan itu langsung masuk ke pesan suara. Asep mungkin sudah mengganti nomornya, atau sengaja tidak mengangkat panggilan dari nomor asing. Naira mencoba lagi, dan lagi, tanpa hasil.
"Sial," desisnya. "Bagaimana caranya menghubunginya?"
Ia ingat Asep memiliki kebiasaan menggunakan aplikasi perpesanan tertentu yang Ardan anggap "aman" karena terenkripsi. Sebuah aplikasi lama yang tidak populer, biasanya digunakan oleh orang-orang yang ingin menjaga privasi mereka dari pengawasan digital.
Naira mencari di ponselnya, berharap aplikasi itu masih terinstal. Dan benar saja, di antara tumpukan aplikasi media sosial yang sudah lama tidak ia buka, ada ikon aplikasi itu.
Ia membuka aplikasi tersebut, mencari nama Asep. Ada. Dengan hati-hati, ia mengetik pesan.
Hai, Sep. Ini Naira. Aku butuh bicara. Penting. Tentang Ardan dan... Hartono.
Ia ragu sejenak, lalu menekan kirim. Tidak ada tanda pesan terkirim. Mungkin Asep sudah tidak menggunakan aplikasi ini lagi. Atau mungkin ia sengaja tidak membaca.
Naira menghela napas, kecewa. Ia meletakkan ponsel itu di meja, menatap buku agenda hitam di depannya. Perasaannya campur aduk antara harapan dan keputusasaan.
Beberapa menit berlalu. Layar ponselnya tiba-tiba menyala. Sebuah notifikasi dari aplikasi perpesanan itu. Ada balasan dari Asep. Jantung Naira berdebar kencang. Ia segera mengambil ponselnya.
Pesan itu terbaca singkat, padat, dan dingin:
Jangan bicara di telepon. Kau sudah diawasi sejak Ardan ditahan.
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar 💛
Kalau gak mau ribet, kamu bisa pilih Anonim, lalu tuliskan namamu di akhir komentar (misalnya: by Ayu).
Jejak kecilmu berarti banyak untuk ku