Bab 12: Manuver Berani
"Cari di rumah keluarganya!" Suara Toni, penuh ketegangan, menembus selimut tebal yang membalut Naira.
Ia mendengar langkah kaki Toni dan Haris yang tergesa-gesa menjauh dari kamar tidur, lalu suara pintu apartemen yang dibanting menutup. Sunyi.
Naira tetap meringkuk, menahan napas, menunggu. Satu menit terasa seperti satu jam. Dua menit. Tiga menit. Ia mendengar suara mesin mobil yang menyala, lalu meredup di kejauhan. Mereka sudah pergi. Akhirnya.
Perlahan, tubuhnya yang kaku beringsut keluar dari balik lemari. Debu tebal menempel di rambut dan pakaiannya. Bau apak menusuk hidungnya.
Ia berdiri tegak, memandang sekeliling. Apartemen mungil yang tadinya rapi—meski sederhana—kini porak-poranda. Laci-laci ditarik paksa, isinya berhamburan di lantai.
Baju-baju murahan yang ia beli untuk penyamaran terinjak-injak. Buku-buku yang ia susun di rak kecil berserakan. Sebuah vas bunga plastik yang ia letakkan di meja makan pecah berkeping-keping.
“Bajingan!” desisnya, suaranya parau. Kemarahan kembali membuncah. Mereka tidak menemukan apa-apa, tapi mereka sengaja menghancurkan tempat ini, seolah untuk memberi pesan. Kami bisa menemukanmu, dan kami bisa mengambil apa pun darimu.
Mata Naira menyapu kekacauan itu, lalu berhenti pada laptop lamanya yang tergeletak di lantai, layarnya retak.
Perangkat itu sudah kosong, semua datanya sudah ia pindahkan ke cloud yang terenkripsi. Tapi tetap saja, hatinya mencelos. Ini adalah simbol dari invasi, dari pelanggaran privasi yang paling brutal.
"Mereka pikir aku akan takut?" gumamnya, bibirnya membentuk senyum pahit. "Mereka pikir aku akan menyerah setelah ini?"
Ancaman terhadap orang tuanya, dan kini invasi ke tempat persembunyiannya. Ini bukan lagi sekadar peringatan.
Ini adalah deklarasi perang. Dan Naira tahu, ia harus membalasnya dengan cara yang sama cerdiknya.
Ia tidak punya waktu untuk membersihkan kekacauan. Ia harus segera pergi. Mereka tahu dia ada di sini, atau setidaknya pernah ada di sini. Dan yang lebih mengkhawatirkan, mereka tahu tentang orang tuanya. Kata-kata Toni terngiang lagi: "Cari di rumah keluarganya."
"Sial!" Ia mengumpat. Ibunya. Brankas ibunya. Bukti-bukti yang paling krusial ada di sana. Apakah ibunya aman? Apakah mereka sudah sampai di sana?
Naira menggelengkan kepala. Tidak, tidak mungkin secepat itu. Mereka pasti akan bergerak dengan hati-hati, memastikan tidak ada jejak.
Tapi risikonya terlalu besar. Ia harus menghubungi ibunya, namun tidak dari ponselnya yang sekarang. Terlalu berbahaya.
Ia menarik sebuah tas punggung kecil dari bawah tumpukan pakaian yang belum sempat ia sentuh.
Ini adalah "tas darurat" yang sudah ia siapkan, berisi beberapa lembar pakaian, sikat gigi, sedikit uang tunai, dan ponsel prabayar yang belum pernah ia gunakan.
Ia memasukkan power bank dan beberapa kabel pengisi daya, juga sebuah buku catatan kecil dan pena.
Ini semua yang ia butuhkan untuk sementara waktu. Simbol statusnya—tas mahal, perhiasan, pakaian desainer—sudah lama ia buang.
Kini, yang ia miliki hanyalah kemampuan bertahan hidup dan tekad membaja.
Ia melirik ke arah jendela, tirainya sudah robek dan terbuka. Cahaya matahari pagi mulai menyelinap masuk, menerangi partikel debu yang menari-nari di udara.
Ada rasa kosong di dadanya, rasa kehilangan yang tak terlukiskan. Bukan karena barang-barang yang hancur, melainkan karena ia menyadari betapa sendiriannya ia dalam pertarungan ini.
"Oke, Naira," bisiknya pada diri sendiri, suaranya mantap. "Kau harus lebih cerdik. Kau harus lebih cepat."
Ia keluar dari apartemen itu, mengunci pintu yang engselnya sudah goyah. Tidak ada yang akan curiga jika ia pergi.
Ia hanyalah penyewa biasa yang mungkin merasa tidak nyaman dengan kekacauan itu.
Begitu sampai di koridor yang sepi, ia melihat seorang tetangga tua yang sedang menyiram tanaman di depan pintu. Wanita itu tersenyum tipis padanya. Naira membalas senyuman itu, berusaha terlihat normal.
Ini adalah bagian dari penyamarannya: menjadi orang biasa, orang yang tidak menarik perhatian.
Ia turun melalui tangga darurat, menghindari lift yang mungkin memiliki kamera pengawas. Di lantai dasar, ia melangkah keluar, langsung berbaur dengan kerumunan orang yang mulai memadati jalanan Jakarta Pusat di pagi hari.
Bau knalpot, suara klakson, dan hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur menyambutnya.
Di sudut jalan, ia memesan taksi daring dari aplikasi yang berbeda lagi, menggunakan ponsel prabayar barunya.
Kali ini, tujuannya adalah sebuah lokasi yang jauh lebih kumuh, sebuah apartemen sewa harian yang ia temukan secara tunai seminggu sebelumnya.
Ia sudah membayar untuk sebulan penuh, menggunakan nama samaran dan identitas palsu yang ia buat sendiri.
Perjalanan itu terasa panjang. Setiap mobil hitam yang melintas membuatnya waspada. Setiap tatapan mata yang ia tangkap di kaca spion membuat jantungnya berdegup kencang.
Paranoia adalah teman setianya sekarang.
"Pak, bisa belok kiri di sana?" pintanya pada sopir, menunjuk sebuah gang sempit yang ramai dengan pedagang kaki lima. "Saya mau cari sarapan."
Sopir itu mengernyit, tapi menurut. Naira turun, membeli sebungkus nasi uduk, dan berpura-pura makan sambil memantau sekeliling.
Tidak ada yang mencurigakan. Ia kembali ke taksi, melanjutkan perjalanan. Manuver kecil ini memberinya sedikit rasa aman.
Akhirnya, taksi berhenti di depan sebuah gedung apartemen tua yang tampak menjulang kusam di antara gedung-gedung baru yang mengilat.
Catnya sudah mengelupas, jendelanya kotor, dan di lantai dasar terdapat beberapa warung makan yang berasap.
Inilah tempat persembunyian barunya. Sebuah lingkungan yang jauh dari kemewahan yang dulu ia kenal, jauh dari orang-orang yang mengenalnya.
"Terima kasih, Pak," katanya, membayar sopir dan turun.
Naira masuk ke lobi yang redup dan berbau masakan. Dindingnya retak, dan lampu neon di langit-langit berkedip-kedip.
Sebuah ironi yang pedih.
Dulu, ia tinggal di penthouse dengan pemandangan kota yang gemerlap. Kini, ia akan bersembunyi di sini, di tengah-tengah keramaian yang anonim.
Ia naik lift tua yang berdecit, jarinya menekan tombol lantai tujuh.
Di dalam lift, ia menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. Wajahnya masih pucat, ada lingkaran hitam di bawah matanya.
Tapi ada sesuatu yang berbeda.
Kilatan di matanya bukan lagi ketakutan, melainkan tekad yang dingin. Ia mengenakan kaus oblong abu-abu yang sudah lusuh dan celana jins yang robek.
Rambutnya diikat asal-asalan. Tidak ada lagi jejak sosialita Naira yang sempurna. Semua simbol statusnya telah ia tanggalkan, seolah melepaskan kulit lama.
"Ini kamu yang baru, Naira," bisiknya pada pantulan itu. "Ini kamu yang sebenarnya."
Pintu lift terbuka di lantai tujuh. Koridornya sempit dan remang-remang. Bau masakan dan asap rokok bercampur menjadi satu. Ia mencari pintu nomor 704. Kuncinya sudah ia dapatkan dari agen.
Begitu masuk, Naira melemparkan tas punggungnya ke lantai. Apartemen itu lebih kecil dari yang sebelumnya, hanya sebuah kamar dengan kamar mandi kecil dan dapur mini.
Jendela menghadap ke dinding apartemen sebelah, tanpa pemandangan. Tapi di sinilah ia merasa aman. Di sinilah ia bisa menghilang.
Dua hari berikutnya ia habiskan untuk mengamankan tempat persembunyiannya. Ia tidak keluar sama sekali, kecuali untuk membeli makanan dari warung di lantai bawah, berbekal hoodie dan kacamata hitam.
Ia membersihkan apartemen itu, menata barang-barangnya yang sedikit, dan menguji koneksi internetnya.
Naira membuat jadwal tidur yang lebih teratur, mencoba memulihkan tenaganya. Namun, pikirannya tak pernah berhenti bekerja.
Dia menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop lamanya (yang satunya, yang tidak disita) yang sudah ia format ulang.
Ia membuat akun-akun dummy baru lagi, bahkan lebih banyak dari sebelumnya. Ia mengunggah backup data ke cloud yang berbeda, mengatur sistem notifikasi otomatis jika ada aktivitas mencurigakan di akun-akun lamanya.
Naira merasa seperti seorang insinyur keamanan siber, padahal dulunya ia hanya seorang influencer yang piawai memoles citra.
"Jenderal Hartono," gumamnya, matanya terpaku pada layar yang menampilkan berita tentang Hartono yang sedang meresmikan proyek sosial, lengkap dengan senyum palsunya. "Kau akan tahu siapa Naira yang sebenarnya."
Ia juga menggunakan waktu ini untuk menghubungi ibunya. Bukan dengan telepon, tapi dengan pesan singkat yang dikirim melalui nomor yang tidak terdaftar atas namanya, menggunakan kode rahasia yang sudah mereka sepakati.
"Ibu aman?"
Balasan datang beberapa jam kemudian. "Ibu baik-baik saja, Nak. Jangan khawatirkan Ibu."
Naira menghela napas lega. Setidaknya, untuk saat ini, ibunya aman. Dan bukti-bukti itu juga aman.
Tapi kata-kata Toni masih membekas: "Cari di rumah keluarganya." Ini berarti Hartono akan tetap mencoba.
Ia harus memindahkan ibunya ke tempat yang lebih aman. Tapi itu nanti. Sekarang, fokusnya adalah langkah selanjutnya.
Ia harus mulai membangun jaringannya.
Bima, jurnalis investigasi independen. Santi, aktivis lokal. Mereka adalah harapan terakhirnya. Ia harus berhati-hati, sangat berhati-hati.
Setelah dua hari mengisolasi diri, Naira memutuskan untuk berani keluar sebentar, sekadar untuk merasakan udara luar dan membeli beberapa kebutuhan di minimarket terdekat.
Ini juga bagian dari strateginya untuk beradaptasi, menjadi bagian dari lingkungan barunya, tidak lagi menjadi orang asing yang mencurigakan.
Naira mengenakan hoodie lagi, menutupi sebagian wajahnya. Kacamata hitam bertengger di hidungnya. Ia mencoba berjalan dengan langkah santai, seperti orang biasa yang tidak punya masalah apa-apa.
Di dalam lift yang berdecit, ia sendirian, menatap pantulan dirinya lagi. Wanita yang ada di cermin itu adalah seorang pejuang, bukan korban. Seorang yang berani, bukan pengecut.
Pintu lift terbuka di lantai dasar. Naira melangkah keluar, bersiap menghadapi hiruk-pikuk jalanan.
Namun, tepat di depannya, seorang pria tinggi dengan rambut agak gondrong dan kacamata tebal, baru saja akan masuk ke dalam lift.
Pria itu mengangkat kepala, dan mata mereka bertemu.
Jantung Naira terasa berhenti berdetak. Ia mengenali pria itu. Wajahnya sering muncul di acara-acara media, di seminar-seminar tentang kebebasan pers.
Itu Bima. Jurnalis investigasi independen yang ia kenal—atau setidaknya, pernah dikenalnya—dari kehidupan lamanya sebagai sosialita.
Bima juga berhenti, matanya menyipit, seolah mencoba mengingat. Ada seulas senyum tipis di bibirnya, senyum yang bukan senyum sapaan biasa, melainkan senyum seseorang yang baru saja menemukan sesuatu yang sangat tidak terduga.
"Naira?" tanya Bima, suaranya pelan dan penuh keheranan, menatap penampilan Naira yang jauh dari citra lamanya.
Komentar
Posting Komentar
Silakan tinggalkan komentar 💛
Kalau gak mau ribet, kamu bisa pilih Anonim, lalu tuliskan namamu di akhir komentar (misalnya: by Ayu).
Jejak kecilmu berarti banyak untuk ku